Dari Abu Sulaiman kepada ikhwan Muwahhidin dimana saja berada semoga diberikan kesabaran dan istiqamah
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Segala puji hanyalah milik Allah Rabbul ‘Alamin, Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya semua. Wa ba’du:
عن أبي عمرو وقيل أبي عمرة سفيان بن عبدالله الثقفي رضي الله عنه قال : قلت: يا رسول الله , قل لي في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً غيرك, قال ” قل آمنت بالله ثم استقم ” رواه مسلم
Abu ‘Amr atau Ibnu ‘Amrah Sufyan Ibnu Abdillah Ats Tsaqafiy Radliallahu ‘anhu berkata: Saya berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepada saya di dalam Islam ini suatu ucapan yang tidak saya tanyakan kepada siapapun tentangnya selain engkau! Beliau berkata: “Katakanlah: “Saya beriman kepada Allah,” kemudian istiqamahlah!” [HR Muslim]
Iman (Tauhid) dan istiqamah diatasnya sampai mati adalah satu-satunya jalan untuk meraih ridla Allah dan surga-Nya.
Dia ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” [Fushshilat: 30]
Dan berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka beristiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” [Al Ahqaf: 13-14]
Oleh sebab itu mari kita bersabar di jalan ini, bersabar terhadap banyaknya ujian, bersabar terhadap sedikitnya teman, bersabar terhadap asingnya lingkungan, bersabar terhadap panjangnya perjalanan dan bersabar terhadap lambatnya pertolongan.
Ketika kaum muwahhidin mengalami penindasan dan penyiksaan di awal Islam di Mekkah saat mereka lemah dan yang berkuasa adalah para thaghut.
عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ فَقُلْنَا أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو لَنَا فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهَا فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ
Khabbab Ibnul Aratt Radliallahu ‘anhu berkata: Kami mengadu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sedang beliau berbantal dengan kainnya di naungan Ka’bah, kami berkata kepadanya: Apa engkau tidak meminta pertolongan buat kami? Apa engkau tidak berdoa kepada Allah buat kami? Maka beliau berkata: “Adalah seorang dari umat sebelum kalian dibuatkan lobang baginya di tanah kemudian dia dimasukkan ke dalamnya, terus didatangkan gergaji kemudian diletakkan di atas kepalanya dan dibelah menjadi dua namun hal itu tidak menghalangi dia dari agamanya. Dan dia dicabik-cabik daging dan tulangnya dengan alat pencabik besi namun hal itu tidak menghalangi dia dari agamanya. Demi Allah sungguh Dia akan menyempurnakan urusan (agama) ini sampai pengendara berjalan dari Shan’a ke Hadralmaut tidak takut kecuali kepada Allah atau srigala terhadap kambing-kambingnya, akan tetapi kalian ini tergesa-gesa.” [HR Al Bukhari no 3612]
Ya, banyak diantara kita yang tergesa-gesa ingin cepat meraih kejayaan dan kemenangan tanpa melalui proses ujian, ketertindasan dan perjuangan yang berkelanjutan yang merupakan sunnatullah bagi kemenangan pembawa ajaran-Nya. Maka mari kita selalu mengingat pesan Allah ta’ala kepada Rasul-Nya dan para pengikutnya:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka istiqamahlah engkau (Muhammad) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. [Huud: 112]
Jangan tinggalkan Manhaj Tauhid dan Jihad kepada manhaj Parlemen atau manhaj Salafi Palsu penjilat kepada Thaghut atau manhaj yang melarikan diri dari pengkafiran para thaghut dan anshar mereka karena ingin lari dari konsekuensi-konsekuensi takfir mereka atau manhaj ahlul ghuluw yang semangatnya hanya mengkafirkan orang walaupun sembarangan dan serabutan seperti mereka yang mengkafirkan semua orang yang ikut memberikan suara di dalam Pemilu tanpa rincian…
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada jalan yang diridloiNya….
Sabtu, 30 April 2011
NASEHAT BAGI SAUDARA MUWAHHID
Segala puji hanya milik Allah ta’ala yang menjadikan kebaikan di dalam sesuatu yang tidak disukai jiwa….. Segala sanjungan hanya pantas ditujukan kepada Allah yang telah mengajarkan ilmu kepahaman akan dien di balik perjuangan… Bagi-Nyalah pujian di awal dan di akhir atas karunia kenikmatan iman di balik penderitaan di jalan-Nya…
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada penghulu muwahhidien, pengajar kebaikan dan Rasul panutan yang menjadi uswah hasanah di dalam memikul beban dakwah tauhid, keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat…. Wa ba’du:
Sesungguhnya dakwah tauhid yang dibawa para nabi itu bukanlah sekedar ucapan yang dilontarkan begitu saja atau obrolan teoritis semata di hadapan halayak bahwa ini tauhid… ini syirik.. ini thaghut dan lain sebagainya. Akan tetapi ia adalah ucapan yang hidup dan bisa menggerakkan, ia adalah ucapan yang mengandung beban dan konsekuensi, dan ia juga adalah ucapan yang mengandung reaksi dan konfrontasi. Dan setelahnya hiduplah orang yang hidup diatas kejelasan, dan matilah orang yang mati diatas kejelasan, dan ini akan lebih nampak jelas saat pelakunya hidup di bawah sistim kejahiliyyahan yang dipaksakan…
Sesungguhnya hakikat kemenangan bukanlah keberkuasaan memerintah negeri tanpa tunduk kepada hukum ilahi, namun hakikat kemenangan adalah keteguhan dan keistiqamahan di atas al haq sampai akhir kehidupan dunia dijalani:
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dia dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah menang.” [Ali Imran: 185]
Semua kita yang memahami tauhid mengharapkan hal itu tentunya, tapi pada aplikasinya pada saat ujian dan cobaan datang bertubi-tubi, maka tidak sedikit yang terkapar dan bergelimpangan di tengah jalan, tidak tahan dengan derita kehidupan saat harus dihadapkan kepada kejahatan musuh-musuh Allah yang tidak menyukai prinsip yang dipegangnya.
Saudaraku…camkanlah sesungguhnya manusia saat diajak dan diseru kepada kebaikan dan tauhid, maka banyak sekali yang menerima dan menyambut seruan itu, namun bila ujian berdatangan dan cobaan beriringan, maka mulailah berguguran orang-orang yang di dalam hatinya ada keraguan dan kemunafiqan, dan minggirlah orang yang minggir ke pinggir jalan dan rela hanya menjadi penonton karena keimanan yang lemah di dalam hatinya, dan teguhlah orang yang teguh di atas jalan dan ujian dan Allah pun meneguhkannya karena Dia mengetahui kejujurannya yang ada di dalam hatinya.
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ
“Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, maka Dia-pun menurunkan ketenangan kepada mereka.” [Al Fath: 18]
Orang macam terakhir ini adalah orang-orang yang mana ujian dan cobaan tidak menambahkan baginya kecuali keimanan dan keberserahan diri kepada Allah, setiap kali melihat dan merasakan kepedihan ujian dan persekongkolan musuh-musuh Allah terhadapnya, maka keyakinannya terhadap kebenaran prinsip yang dibawanya semakin mantap dan meresap menyatu di dalam jiwa yang melahirkan keterharuan dan aliran air mata akibat kebahagiaan jiwa di balik derita yang dialami di jalan Allah. Sungguh bahagia orang yang mengalami dan merasakannya, dan rugilah orang yang terhalang darinya.
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat pasukan-pasukan yang bersekutu itu, maka mereka berkata: “Ini adalah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan sungguh benar Allah dan Rasul-Nya” dan hal itu tidak menambah bagi mereka kecuali keimanan dan keberserahan diri.” [Al Ahzab: 22]
Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya adalah bahwa orang-orang yang beriman akan diuji dengan berbagai ujian dan goncangan, dan pertolongan Allah diberikan kepada yang sabar.
Saudaraku… tauhid dan iman itu memiliki rasa manis yang tidak bisa digambarkan dengan ucapan dan penjelasan, namun hanya bisa dirasakan oleh orang yang merasakan, dan ia tidak akan bisa dirasakan kecuali di balik penderitaan di dalam mempertahankan dan memperjuangkan tauhid tersebut. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, maka dia pasti mendapatkan manisnya iman: Yaitu Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dia cintai dari selain keduanya, dia mencintai seseorang dimana dia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan dia membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.” [Al Bukhari dan Muslim]
Penyiksaan fisik, terror pikiran, pemenjaraan, pengisolasian, ancaman dan iming-iming kemudahan dan fasilitas yang biasa dilakukan musuh-musuh Allah terhadap para da’i dan mujahid adalah hal yang membahayakan bila si da’i atau mujahid itu tidak mengedepankan Allah dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itu untuk mengantisipasi di dalam menghadapi beban-beban berat itu Allah ta’ala mengajarkan kita cara mengokohkan jiwa, diantaranya qiyamullail yang panjang, tilawatul qur’an di malam hari, munajat dan berdoa kepadanya dengan sepenuh hati, memperbanyak dzikir, sebagaimana di dalam surat Al Muzzammil, juga mengkaji sirah orang-orang mu’min terdahulu yang banyak di singgung di dalam Al Qur’an dan As Sunnah….
Saudaraku…Ukurlah setiap ucapan dengan kemampuan diri di dalam memikul konsekuensinya, jangan sampai semangat yang meledak-ledak mendorong engkau melontarkan ucapan di depan umum yang justru engkaulah orang pertama yang ciut dan ketakutan saat ucapan tersebut mendatangkan konsekuensi dan mengundang reaksi balik musuh Allah, sehingga akhirnya engkau menjadi bahan cemoohan lawan dan kawan yang sebelumnya kagum kepadamu….
Dan jangan sekali-kali menantang ujian dan cobaan, namun memintalah keteguhan kepada Allah di dalam menghadapi ujian, dan bersabarlah bila ujian itu datang kepadamu, dan mulai dari situ engkau mengetahui kemampuan dirimu….
Saudaraku… Hiasilah diri engkau dengan akhlaq mulia, jagalah lisan dan jangan hiraukan celaan. Semoga Allah ta’ala membimbing kita semua… Amiin…
17 Dzul Qa’dah 1431 H
Abu Sulaiman
Ghurfah infiradiyyah Sijn Thaghut
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada penghulu muwahhidien, pengajar kebaikan dan Rasul panutan yang menjadi uswah hasanah di dalam memikul beban dakwah tauhid, keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat…. Wa ba’du:
Sesungguhnya dakwah tauhid yang dibawa para nabi itu bukanlah sekedar ucapan yang dilontarkan begitu saja atau obrolan teoritis semata di hadapan halayak bahwa ini tauhid… ini syirik.. ini thaghut dan lain sebagainya. Akan tetapi ia adalah ucapan yang hidup dan bisa menggerakkan, ia adalah ucapan yang mengandung beban dan konsekuensi, dan ia juga adalah ucapan yang mengandung reaksi dan konfrontasi. Dan setelahnya hiduplah orang yang hidup diatas kejelasan, dan matilah orang yang mati diatas kejelasan, dan ini akan lebih nampak jelas saat pelakunya hidup di bawah sistim kejahiliyyahan yang dipaksakan…
Sesungguhnya hakikat kemenangan bukanlah keberkuasaan memerintah negeri tanpa tunduk kepada hukum ilahi, namun hakikat kemenangan adalah keteguhan dan keistiqamahan di atas al haq sampai akhir kehidupan dunia dijalani:
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dia dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah menang.” [Ali Imran: 185]
Semua kita yang memahami tauhid mengharapkan hal itu tentunya, tapi pada aplikasinya pada saat ujian dan cobaan datang bertubi-tubi, maka tidak sedikit yang terkapar dan bergelimpangan di tengah jalan, tidak tahan dengan derita kehidupan saat harus dihadapkan kepada kejahatan musuh-musuh Allah yang tidak menyukai prinsip yang dipegangnya.
Saudaraku…camkanlah sesungguhnya manusia saat diajak dan diseru kepada kebaikan dan tauhid, maka banyak sekali yang menerima dan menyambut seruan itu, namun bila ujian berdatangan dan cobaan beriringan, maka mulailah berguguran orang-orang yang di dalam hatinya ada keraguan dan kemunafiqan, dan minggirlah orang yang minggir ke pinggir jalan dan rela hanya menjadi penonton karena keimanan yang lemah di dalam hatinya, dan teguhlah orang yang teguh di atas jalan dan ujian dan Allah pun meneguhkannya karena Dia mengetahui kejujurannya yang ada di dalam hatinya.
فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ
“Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, maka Dia-pun menurunkan ketenangan kepada mereka.” [Al Fath: 18]
Orang macam terakhir ini adalah orang-orang yang mana ujian dan cobaan tidak menambahkan baginya kecuali keimanan dan keberserahan diri kepada Allah, setiap kali melihat dan merasakan kepedihan ujian dan persekongkolan musuh-musuh Allah terhadapnya, maka keyakinannya terhadap kebenaran prinsip yang dibawanya semakin mantap dan meresap menyatu di dalam jiwa yang melahirkan keterharuan dan aliran air mata akibat kebahagiaan jiwa di balik derita yang dialami di jalan Allah. Sungguh bahagia orang yang mengalami dan merasakannya, dan rugilah orang yang terhalang darinya.
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat pasukan-pasukan yang bersekutu itu, maka mereka berkata: “Ini adalah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan sungguh benar Allah dan Rasul-Nya” dan hal itu tidak menambah bagi mereka kecuali keimanan dan keberserahan diri.” [Al Ahzab: 22]
Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya adalah bahwa orang-orang yang beriman akan diuji dengan berbagai ujian dan goncangan, dan pertolongan Allah diberikan kepada yang sabar.
Saudaraku… tauhid dan iman itu memiliki rasa manis yang tidak bisa digambarkan dengan ucapan dan penjelasan, namun hanya bisa dirasakan oleh orang yang merasakan, dan ia tidak akan bisa dirasakan kecuali di balik penderitaan di dalam mempertahankan dan memperjuangkan tauhid tersebut. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, maka dia pasti mendapatkan manisnya iman: Yaitu Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dia cintai dari selain keduanya, dia mencintai seseorang dimana dia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan dia membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.” [Al Bukhari dan Muslim]
Penyiksaan fisik, terror pikiran, pemenjaraan, pengisolasian, ancaman dan iming-iming kemudahan dan fasilitas yang biasa dilakukan musuh-musuh Allah terhadap para da’i dan mujahid adalah hal yang membahayakan bila si da’i atau mujahid itu tidak mengedepankan Allah dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itu untuk mengantisipasi di dalam menghadapi beban-beban berat itu Allah ta’ala mengajarkan kita cara mengokohkan jiwa, diantaranya qiyamullail yang panjang, tilawatul qur’an di malam hari, munajat dan berdoa kepadanya dengan sepenuh hati, memperbanyak dzikir, sebagaimana di dalam surat Al Muzzammil, juga mengkaji sirah orang-orang mu’min terdahulu yang banyak di singgung di dalam Al Qur’an dan As Sunnah….
Saudaraku…Ukurlah setiap ucapan dengan kemampuan diri di dalam memikul konsekuensinya, jangan sampai semangat yang meledak-ledak mendorong engkau melontarkan ucapan di depan umum yang justru engkaulah orang pertama yang ciut dan ketakutan saat ucapan tersebut mendatangkan konsekuensi dan mengundang reaksi balik musuh Allah, sehingga akhirnya engkau menjadi bahan cemoohan lawan dan kawan yang sebelumnya kagum kepadamu….
Dan jangan sekali-kali menantang ujian dan cobaan, namun memintalah keteguhan kepada Allah di dalam menghadapi ujian, dan bersabarlah bila ujian itu datang kepadamu, dan mulai dari situ engkau mengetahui kemampuan dirimu….
Saudaraku… Hiasilah diri engkau dengan akhlaq mulia, jagalah lisan dan jangan hiraukan celaan. Semoga Allah ta’ala membimbing kita semua… Amiin…
17 Dzul Qa’dah 1431 H
Abu Sulaiman
Ghurfah infiradiyyah Sijn Thaghut
Rabu, 20 April 2011
SURAT DARI BUMI AFGHANISTAN Surat Dari Bumi Afghanistan Kepada Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi Hafidlahullah
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji hanya bagi Allah sebagaimana layaknya bagi keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam dan sebagai pedang yang dihunus terhadap leher-leher para thaghut dan para penguasa durjana, juga kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik….wa ba’du:
Allah ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ
“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada siapapun selain kepada Allah.” [Al Ahzab: 39]
Dan berfirman:
شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan.” [Ali Imran: 18]
Dan berfirman:
َ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama.” [Fathir: 28]
Dari bumi karamah (kemuliaan) dan kebanggaan, dari pabrik pencetak kaum laki-laki sejati dan tempat berkiprah para pahlawan serta tempat yang diimpikan oleh jiwa kaum muwahhidin di seluruh belahan barat dan timur bumi, dari bumi yang lewat ketangguhan dan keteguhan para mujahidnya telah hancur berkeping-keping pasukan kafir paling tangguh dan barisan thaghut dhalim yang paling ganas, dari bumi yang tanahnya telah menjadi lahan pekuburan bagi penganut Islam pilihan dan para pembela dien yang terseleksi dari kalangan muhajirin dan anshar, dari bumi Afghanistan yang luhur, kepada sosok gunung yang kokoh diantara para ulama yang jujur dan para da’i yang tulus, dan bintang yang terang bercahaya di langit para pembawa prinsip dan seruan, kepada syaikh yang Rab-nya telah menjadikannya sebagai pemeran di dalam menyingkirkan kotoran yang menyelimuti aqidah shalihah yang murni, dimana ia termasuk diantara orang yang membersihkannya dari tahrif orang-orang yang ghuluw, tipu daya orang-orang yang sesat dan takwil orang-orang yang bodoh, dan mengembalikannya kepada ajaran yang putih bersih, sehingga engkau tidak melihat lagi di dalamnya penyimpangan dan penyelewengan. Dimana ia terangi malam kita yang gelap gulita dengan Millah Ibrahim[1], ia babat penyesatan (yang menimpa umat) dengan Al Kawasyif Al Jaliyyah-nya[2], ia bongkar kedok kebejatan hukum rimba[3], ia senangkan pandangan ini dengan pembungkaman syubuhat Murji’ah Masa Kini[4], dan ia luruskan kesalahan dan kekeliruan dengan Waqafatnya[5]. Dan ucapan-ucapannya serta tulisan-tulisannya masih terus memiliki pengaruh yang dasyat di dalam membersihkan keyakinan-keyakinan (aqidah) banyak orang dari ahlul jihad, dimana bibitnya menancap kokoh di dalam dada mereka dan meresap di dalam jiwa mereka, sehingga bibit itu tidak melemah karena hempasan syubuhat dan tidak miring bersama arus banjir penyimpangan dan penyelewengan.
Kepada syaikh yang menjaharkan kebenaran -sebagaimana yang kami nilai dan kami tidak mensucikannya atas nama Allah- yaitu Abu Muhammad Al Maqdisi semoga Allah menjaganya dari tipu daya para thaghut dan makar orang-orang yang berniat jahat, dan semoga Allah melindunginya dan meneguhkan di atas al haq ini tanpa melemah atau mundur atau cenderung (rukun) (kepada thaghut)… Amiin …
Kepada engkau…wahai syaikh kami yang mulia dan ulama kami yang terang-terangan dengan al haq, kami kirimkan ucapan tahiyyah yang penuh berkah lagi suci, tahiyyah penghormatan dan pengagungan, dan ucapan salam yang disertai dengan puncak makna kecintaan dan kasih sayang karena Allah, serta kerinduan yang dipenuhi rasa kangen kepada engkau dan keinginan untuk bermujalasah dengan engkau serta menimba dari ilmu engkau. Dan sudah sewajibnya atas umat Islam secara umum dan atas kader-kadernya dari kalangan ahlul jihad secara khusus untuk berterima kasih kepada engkau wahai syaikh kami yang diberkahi, atas pembelaan engkau terhadap manhaj tauhid dan jihad yang dilakukan secara sirr dan terang-terangan, atas penderitaan yang sangat berat yang engkau pikul di dalam mengemban dakwah mubarakah ini, dan berbagai kesulitan dan kondisi-kondisi yang mencekam yang menghantui engkau, serta penindasan dan penyengsaraan yang engkau alami, dalam rangka menempuh jalan manusia pilihan dari kalangan para nabi dan rasul, dan dalam rangka mentauladani orang-orang yang telah mendahului engkau di dalam memikul amanah yang agung itu dan tampil untuk membelanya serta menjaharkannya. Sehingga engkau telah mengembalikan ingatan kepada ulama-ulama Islam yang besar lagi agung, seperti Abdullah Ibnul Mubarak, Ahmad Ibnu Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Al ‘Izz Ibnu Abdissalam dan yang lainnya yang sangat banyak dari kalangan yang tidak melemah karena bencana yang menimpa di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak menyerah (kepada musuh). Maka bergembiralah wahai syaikh kami yang mulia, karena buah-buah dakwah engkau telah siap panen dan matang, dan sebentar lagi awan para thaghut akan tersingkap dan bumi akan terang dengan cahaya Tuhan-nya, dan kami dengan kaki kuda-kuda kami akan menginjak leher-leher para thaghut arab dan ‘ajam dengan izin Allah. Ini buktinya serangan-serangan pasukan Allah telah bergerak dari sini dari bumi Afghanistan dan ia tidak akan berhenti sampai ia menancapkan panji-panji di Baitul Maqdis dengan pertolongan Allah dan kekuatan-Nya. Kami sampaikan kabar gembira kepada engkau bahwa serangan orang-orang kafir telah dipukul mundur dengan kegeramannya seraya tidak meraih kecuali kerugian, kehancuran dan korban mati lewat tangan pasukan Allah dan tentara-Nya yang agung.
Dan ia itu hanya sebentar saja yang tidak sebanding dengan sesuatu pun dari perhitungan zaman, dan pasukan Islam yang besar akan bergerak dari tempatnya dan syari’at Islam akan menaungi belahan bumi walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. Namun setiap kelahiran yang agung haruslah mengalami kehamilan yang sulit, berbagai putaran kepayahan dan cobaan, mengecap kemelaratan dan kepedihan, pembersihan orang-orang yang jujur serta penyaringan barisan, “sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, maka datanglah kepada mereka pertolongan Kami”, sehingga nampaklah al haq dan lenyaplah kebatilan, dan sejarah pun mengukir dengan tinta kebanggaan nama-nama orang yang teguh di hari sedikitnya orang-orang yang teguh, nama-nama orang yang ingkar terhadap kebatilan secara terang-terangan di hari banyaknya orang-orang yang rukun kepada orang-orang yang dhalim,dan nama-nama orang yang mencampakkan hukum-hukum thaghut dan memusuhinya di hari mayoritas manusia menikmatinya dan mengibadatinya. Kami memohon mudah-mudahan Allah meneguhkan engkau di atas hal ini tanpa menyimpang atau menyeleweng atau taraju’ (mundur dari manhaj yang haq) atau inhiraf (berbelok) … Amiin …
Kami sesungguhnya saat memegang tangan engkau di atas hal itu, kami mengetahui bahwa ahlul bathil telah merancang dan membulatkan tekad mereka kemudian datang berbaris-baris untuk menimpakan bencana kepada engkau dan terhadap dakwah tauhid yang penuh berkah ini, namun tatkala mereka tidak mampu menutup cahaya matahari engkau yang berkilau dengan jaring-jaring mereka yang hina lagi busuk, maka mereka beralih menggunakan cara menghina matahari itu dan menuduh busuk sinarnya, dan untuk hal itu mereka mengerahkan setiap orang busuk dan bejat di dalam berbagai forum dan simposium, untuk berupaya mencoreng dakwah tauhid lewat cara menjatuhkan para tokoh rujukannya, dan mana mungkin mereka bisa berhasil! Dan mana mungkin lautan bisa menjadi keruh dengan sebab banyaknya orang yang meludah di dalamnya! Dan mana mungkin langit terganggu dengan lolongan anjing dan hamburan debu, dan seandainya semua manusia berubah menjadi sapu untuk menebarkan debu, maka tetap saja langit itu adalah langit, dan tetap saja engkau adalah seperti engkau yang telah kami kenal dan dikenal oleh ahlul Islam di belahan timur dan barat bumi ini, teguh lagi kokoh, tidak merubah (prinsip) lagi tidak taraju’, penghalang yang kuat di hadapan orang-orang yang membancikan dien ini, benteng yang tangguh di hadapan jalan orang-orang yang menyelisihi millah ibrahim, panah yang tepat sasaran di dada ahli bid’ah dan ahli irja, serta duri yang menusuk di tenggorokan para thaghut dan ulama mereka serta orang-orang yang mengokohkan tahta mereka. Itulah keyakinan kami terhadap engkau dan apa yang kami kenal dari perjalanan engkau, maka berjalanlah engkau di atas jalan yang engkau pegang sedangkan ruhul qudus bersama engkau, Mata Allah mengawasi engkau dan melindungi engkau, serta lisan para mujahidin selalu memuji engkau dan mendoakan engkau. Sedangkan tempat pertemuan adalah di sana dengan izin Allah bersama para nabi, shiddiqin, para syuhada dan shalihin di taman-taman dan sungai-sungai di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
“Putera-putera engkau yang berjihad di Afghanistan -semoga Allah menegakkan syari’at-Nya di dalamnya-.”
Jangan lupakan kami dari kebaikan doa
Saudara-saudara kalian di situs Ansharul Mujahidin
https://asansar.info/vb
http://as-ansar.com/vb
http://as-ansar.info/vb
Alih bahasa : Abu Sulaiman
17 Ramadlan 1431 H. Sijn PMJ NKB
[1] Maksudnya dengan kitab beliau Millah Ibrahim. (Pent)
[2] Maksudnya Al Kawasyif Al Jaliyyah fi Kufri Ad Daulah As Su’udiyyah, kitab beliau yang sudah kami terjemahkan dengan judul “Membongkar kekafiran Negara Saudi”. (Pent)
[3] Maksudnya Kasyfun Niqab, (Pent)
[4] Maksudnya Imta’un Nadhr Fi Kasyfi Syubuhat Murji’atil’Ashr, kitab beliau yang kami terjemahkan dengan judul “Membongkar Syubuhat Neo Murjiah Yang Berkedok Salafy” dan diterbitkan dengan judul “Salah Kaprah Salafi” (Pent)
[5] Maksudnya kitab Waqafat Ma’a Tsamaratil Jihad, kitab beliau yang kami terjemahkan dengan judul “Renungan-renungan tentang hasil-hasil jihad…” yang diterbitkan oleh Penerbit jazeera dengan judul yang buruk “Mereka Mujahid Tapi Salah Langkah” tanpa sepengetahuan penterjemah, yang membuat sebagian ikhwan tidak suka dengan buku itu dan mencela penulisnya padahal mereka belum membaca isinya. Tapi lihatlah para mujahidin Afghanistan yang menjadi pilar kebanggaan umat Islam sekarang, mereka memuji buku itu dan merujuknya dalam membenahi kekeliruan di dalam amal jihadi! Mudah-mudahan ada penerbit yang mau menerbitkannya lagi dengan judul yang sesuai aslinya. (Pent)
Segala puji hanya bagi Allah sebagaimana layaknya bagi keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam dan sebagai pedang yang dihunus terhadap leher-leher para thaghut dan para penguasa durjana, juga kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik….wa ba’du:
Allah ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ
“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada siapapun selain kepada Allah.” [Al Ahzab: 39]
Dan berfirman:
شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan.” [Ali Imran: 18]
Dan berfirman:
َ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama.” [Fathir: 28]
Dari bumi karamah (kemuliaan) dan kebanggaan, dari pabrik pencetak kaum laki-laki sejati dan tempat berkiprah para pahlawan serta tempat yang diimpikan oleh jiwa kaum muwahhidin di seluruh belahan barat dan timur bumi, dari bumi yang lewat ketangguhan dan keteguhan para mujahidnya telah hancur berkeping-keping pasukan kafir paling tangguh dan barisan thaghut dhalim yang paling ganas, dari bumi yang tanahnya telah menjadi lahan pekuburan bagi penganut Islam pilihan dan para pembela dien yang terseleksi dari kalangan muhajirin dan anshar, dari bumi Afghanistan yang luhur, kepada sosok gunung yang kokoh diantara para ulama yang jujur dan para da’i yang tulus, dan bintang yang terang bercahaya di langit para pembawa prinsip dan seruan, kepada syaikh yang Rab-nya telah menjadikannya sebagai pemeran di dalam menyingkirkan kotoran yang menyelimuti aqidah shalihah yang murni, dimana ia termasuk diantara orang yang membersihkannya dari tahrif orang-orang yang ghuluw, tipu daya orang-orang yang sesat dan takwil orang-orang yang bodoh, dan mengembalikannya kepada ajaran yang putih bersih, sehingga engkau tidak melihat lagi di dalamnya penyimpangan dan penyelewengan. Dimana ia terangi malam kita yang gelap gulita dengan Millah Ibrahim[1], ia babat penyesatan (yang menimpa umat) dengan Al Kawasyif Al Jaliyyah-nya[2], ia bongkar kedok kebejatan hukum rimba[3], ia senangkan pandangan ini dengan pembungkaman syubuhat Murji’ah Masa Kini[4], dan ia luruskan kesalahan dan kekeliruan dengan Waqafatnya[5]. Dan ucapan-ucapannya serta tulisan-tulisannya masih terus memiliki pengaruh yang dasyat di dalam membersihkan keyakinan-keyakinan (aqidah) banyak orang dari ahlul jihad, dimana bibitnya menancap kokoh di dalam dada mereka dan meresap di dalam jiwa mereka, sehingga bibit itu tidak melemah karena hempasan syubuhat dan tidak miring bersama arus banjir penyimpangan dan penyelewengan.
Kepada syaikh yang menjaharkan kebenaran -sebagaimana yang kami nilai dan kami tidak mensucikannya atas nama Allah- yaitu Abu Muhammad Al Maqdisi semoga Allah menjaganya dari tipu daya para thaghut dan makar orang-orang yang berniat jahat, dan semoga Allah melindunginya dan meneguhkan di atas al haq ini tanpa melemah atau mundur atau cenderung (rukun) (kepada thaghut)… Amiin …
Kepada engkau…wahai syaikh kami yang mulia dan ulama kami yang terang-terangan dengan al haq, kami kirimkan ucapan tahiyyah yang penuh berkah lagi suci, tahiyyah penghormatan dan pengagungan, dan ucapan salam yang disertai dengan puncak makna kecintaan dan kasih sayang karena Allah, serta kerinduan yang dipenuhi rasa kangen kepada engkau dan keinginan untuk bermujalasah dengan engkau serta menimba dari ilmu engkau. Dan sudah sewajibnya atas umat Islam secara umum dan atas kader-kadernya dari kalangan ahlul jihad secara khusus untuk berterima kasih kepada engkau wahai syaikh kami yang diberkahi, atas pembelaan engkau terhadap manhaj tauhid dan jihad yang dilakukan secara sirr dan terang-terangan, atas penderitaan yang sangat berat yang engkau pikul di dalam mengemban dakwah mubarakah ini, dan berbagai kesulitan dan kondisi-kondisi yang mencekam yang menghantui engkau, serta penindasan dan penyengsaraan yang engkau alami, dalam rangka menempuh jalan manusia pilihan dari kalangan para nabi dan rasul, dan dalam rangka mentauladani orang-orang yang telah mendahului engkau di dalam memikul amanah yang agung itu dan tampil untuk membelanya serta menjaharkannya. Sehingga engkau telah mengembalikan ingatan kepada ulama-ulama Islam yang besar lagi agung, seperti Abdullah Ibnul Mubarak, Ahmad Ibnu Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Al ‘Izz Ibnu Abdissalam dan yang lainnya yang sangat banyak dari kalangan yang tidak melemah karena bencana yang menimpa di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak menyerah (kepada musuh). Maka bergembiralah wahai syaikh kami yang mulia, karena buah-buah dakwah engkau telah siap panen dan matang, dan sebentar lagi awan para thaghut akan tersingkap dan bumi akan terang dengan cahaya Tuhan-nya, dan kami dengan kaki kuda-kuda kami akan menginjak leher-leher para thaghut arab dan ‘ajam dengan izin Allah. Ini buktinya serangan-serangan pasukan Allah telah bergerak dari sini dari bumi Afghanistan dan ia tidak akan berhenti sampai ia menancapkan panji-panji di Baitul Maqdis dengan pertolongan Allah dan kekuatan-Nya. Kami sampaikan kabar gembira kepada engkau bahwa serangan orang-orang kafir telah dipukul mundur dengan kegeramannya seraya tidak meraih kecuali kerugian, kehancuran dan korban mati lewat tangan pasukan Allah dan tentara-Nya yang agung.
Dan ia itu hanya sebentar saja yang tidak sebanding dengan sesuatu pun dari perhitungan zaman, dan pasukan Islam yang besar akan bergerak dari tempatnya dan syari’at Islam akan menaungi belahan bumi walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya. Namun setiap kelahiran yang agung haruslah mengalami kehamilan yang sulit, berbagai putaran kepayahan dan cobaan, mengecap kemelaratan dan kepedihan, pembersihan orang-orang yang jujur serta penyaringan barisan, “sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, maka datanglah kepada mereka pertolongan Kami”, sehingga nampaklah al haq dan lenyaplah kebatilan, dan sejarah pun mengukir dengan tinta kebanggaan nama-nama orang yang teguh di hari sedikitnya orang-orang yang teguh, nama-nama orang yang ingkar terhadap kebatilan secara terang-terangan di hari banyaknya orang-orang yang rukun kepada orang-orang yang dhalim,dan nama-nama orang yang mencampakkan hukum-hukum thaghut dan memusuhinya di hari mayoritas manusia menikmatinya dan mengibadatinya. Kami memohon mudah-mudahan Allah meneguhkan engkau di atas hal ini tanpa menyimpang atau menyeleweng atau taraju’ (mundur dari manhaj yang haq) atau inhiraf (berbelok) … Amiin …
Kami sesungguhnya saat memegang tangan engkau di atas hal itu, kami mengetahui bahwa ahlul bathil telah merancang dan membulatkan tekad mereka kemudian datang berbaris-baris untuk menimpakan bencana kepada engkau dan terhadap dakwah tauhid yang penuh berkah ini, namun tatkala mereka tidak mampu menutup cahaya matahari engkau yang berkilau dengan jaring-jaring mereka yang hina lagi busuk, maka mereka beralih menggunakan cara menghina matahari itu dan menuduh busuk sinarnya, dan untuk hal itu mereka mengerahkan setiap orang busuk dan bejat di dalam berbagai forum dan simposium, untuk berupaya mencoreng dakwah tauhid lewat cara menjatuhkan para tokoh rujukannya, dan mana mungkin mereka bisa berhasil! Dan mana mungkin lautan bisa menjadi keruh dengan sebab banyaknya orang yang meludah di dalamnya! Dan mana mungkin langit terganggu dengan lolongan anjing dan hamburan debu, dan seandainya semua manusia berubah menjadi sapu untuk menebarkan debu, maka tetap saja langit itu adalah langit, dan tetap saja engkau adalah seperti engkau yang telah kami kenal dan dikenal oleh ahlul Islam di belahan timur dan barat bumi ini, teguh lagi kokoh, tidak merubah (prinsip) lagi tidak taraju’, penghalang yang kuat di hadapan orang-orang yang membancikan dien ini, benteng yang tangguh di hadapan jalan orang-orang yang menyelisihi millah ibrahim, panah yang tepat sasaran di dada ahli bid’ah dan ahli irja, serta duri yang menusuk di tenggorokan para thaghut dan ulama mereka serta orang-orang yang mengokohkan tahta mereka. Itulah keyakinan kami terhadap engkau dan apa yang kami kenal dari perjalanan engkau, maka berjalanlah engkau di atas jalan yang engkau pegang sedangkan ruhul qudus bersama engkau, Mata Allah mengawasi engkau dan melindungi engkau, serta lisan para mujahidin selalu memuji engkau dan mendoakan engkau. Sedangkan tempat pertemuan adalah di sana dengan izin Allah bersama para nabi, shiddiqin, para syuhada dan shalihin di taman-taman dan sungai-sungai di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
“Putera-putera engkau yang berjihad di Afghanistan -semoga Allah menegakkan syari’at-Nya di dalamnya-.”
Jangan lupakan kami dari kebaikan doa
Saudara-saudara kalian di situs Ansharul Mujahidin
https://asansar.info/vb
http://as-ansar.com/vb
http://as-ansar.info/vb
Alih bahasa : Abu Sulaiman
17 Ramadlan 1431 H. Sijn PMJ NKB
[1] Maksudnya dengan kitab beliau Millah Ibrahim. (Pent)
[2] Maksudnya Al Kawasyif Al Jaliyyah fi Kufri Ad Daulah As Su’udiyyah, kitab beliau yang sudah kami terjemahkan dengan judul “Membongkar kekafiran Negara Saudi”. (Pent)
[3] Maksudnya Kasyfun Niqab, (Pent)
[4] Maksudnya Imta’un Nadhr Fi Kasyfi Syubuhat Murji’atil’Ashr, kitab beliau yang kami terjemahkan dengan judul “Membongkar Syubuhat Neo Murjiah Yang Berkedok Salafy” dan diterbitkan dengan judul “Salah Kaprah Salafi” (Pent)
[5] Maksudnya kitab Waqafat Ma’a Tsamaratil Jihad, kitab beliau yang kami terjemahkan dengan judul “Renungan-renungan tentang hasil-hasil jihad…” yang diterbitkan oleh Penerbit jazeera dengan judul yang buruk “Mereka Mujahid Tapi Salah Langkah” tanpa sepengetahuan penterjemah, yang membuat sebagian ikhwan tidak suka dengan buku itu dan mencela penulisnya padahal mereka belum membaca isinya. Tapi lihatlah para mujahidin Afghanistan yang menjadi pilar kebanggaan umat Islam sekarang, mereka memuji buku itu dan merujuknya dalam membenahi kekeliruan di dalam amal jihadi! Mudah-mudahan ada penerbit yang mau menerbitkannya lagi dengan judul yang sesuai aslinya. (Pent)
Sabtu, 12 Maret 2011
PERLUNYA PENCUCIAN OTAK .
by: Aman Abd Rahman
Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya. Wa Ba’du:
Sesungguhnya peperangan terhadap jihad dan mujahidin yang dilancarkan para thaghut dan segala elemennya, dan munculnya banyak pemuda yang tampil di barisan mujahidin lagi meninggalkan dunia mereka yang cerah dan serba ada, yang mana sebagian mereka adalah para pegawai di dinas thaghut yang menurut penilaian keumuman masyarakat bahwa orang-orang semacam itu adalah bermasa depan cerah. Maka kebergabungan mereka dengan tauhid dan jihad itu melahirkan tuduhan para thaghut dan para anteknya bahwa para pemuda itu telah mengalami pencucian otak (brain wash) yang dilakukan oleh para tokoh tauhid dan jihad.
Tuduhan para thaghut itu tidaklah salah, karena memang itu adalah realita dan sesuai dengan makna bahasa asal, di mana kata “mencuci” adalah membersihkan sesuatu yang pada asalnya bersih kemudian terkena kotoran dan noda sehingga dilakukan pembersihan dari kotoran-kotoran tersebut supaya kembali bersih seperti semula.
Begitu juga sesungguhnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan fithrah, bertauhid dan cenderung kepada kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap anak itu dilahirkan di atas fithrah.” [HR Muslim]
Fithrah di sini adalah tauhid atau Islam atau penghadapan wajah hanya kepada Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya ta’ala:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fithrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fithrah) itu.” [Ar Ruum: 30]
Juga di dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman:
إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ فَجَاءَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَأَضَلَّتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ
“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (bertauhid), kemudian syaitan-syaitan datang kepada mereka terus menyesatkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan terhadap mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka.” [HR Muslim]
Jadi nash-nash syar’iy diatas membuktikan bahwa semua orang yang dilahirkan ke bumi ini adalah berada di atas fithrah tauhid, keislaman dan keberserahan diri kepada Allah ta’ala sesuai dengan mitsaq tauhid yang telah Allah ta’ala ambil dari semua anak Adam sebelum terlahir ke dunia, sebagaimana firman-Nya:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” [Al A’raf: 172]
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah ta’ala telah mengambil mitsaq tauhid dari setiap insan sebelum terlahir ke dunia, yaitu kesaksian bahwa Allah adalah Sang Pencipta yang harus diibadati dan ditaati. Dan andaikata tidak ada faktor luar yang merubahnya dan mempengaruhinya tentulah manusia itu tetap di atas tauhid dan Islam, namun faktor luarlah yang menggiringnya keluar dari tauhid.
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ
“Maka kedua orang tuanya menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi.” [HR Muslim]
فَجَاءَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَأَضَلَّتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ
“Maka datanglah syaitan-syaitan kepada mereka, kemudian menyesatkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan terhadap mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka.” [HR Muslim]
Ya telah datang pemerintahan syaithan dengan segala makarnya dan tipu dayanya, dimana dengan sarana dan media pendidikannya para syaithan manusia telah menjauhkan anak-anak kaum muslimin dari tauhid yang benar dan mencekokinya dengan ajaran syaitan. Mereka menggiring anak-anak yang polos itu dengan ajaran pancasila dan agama demokrasi, mereka mentalqinkan sila-sila pancasila kepada anak didik, menjejali otaknya dengan butir-butir pancasila, layaknya para guru Islam mengajarkan rukun-rukun Islam dan penjelasannya. Mereka mendoktrin anak-anak itu dengan UUD 45, mengarahkannya agar loyal dan cinta kepadanya serta menjadikannya sebagai kitab rujukan menyaingi Al Qur’an. Mereka tanamkan nilai-nilai demokrasi di dalam jiwa anak didik sehingga ia melekat pada dirinya. Mereka giring anak didik untuk mencintai bendera dan tanah air. Mereka arahkan si anak untuk mencintai sesama warga negara walau berbeda agama dan keyakinan. Sehingga si anak terbentuk menjadi sekuler tanpa dia rasakan. Dia hanya mengetahui bahwa Islam itu sekedar pengucapan syahadat tanpa konsekuensi, shalat, zakat fithrah, zakat mal, shaum Ramadlan dan haji. Al Qur’an hanya sekedar bacaan tanpa amalan, dia tidak mengenal yang namanya al wala dan al bara, dan andaikata mengenal namanya namun tidak mengenal aplikasinya. Dia tidak mengenal yang namanya jihad qital. Dia hanya mengetahui sekolah, bekerja, menikah, berkumpul dengan keluarga atau bermain di hari liburan, itulah yang ditanamkan buku bacaan “ini budi”. Tidak mengenal yang namanya perpisahan dengan anak isteri untuk berjihad dan berjuang di jalan Allah. Begitulah beberapa generasi terbentuk dengan pola pendidikan syaitan yang dijalankan oleh pemerintah kafir ini. Laki-laki berkeyakinan bahwa puncak kebahagiaan adalah menikah dan memiliki anak cucu serta berkumpul dengan mereka di masa tua, di mana tidak ada pikiran meninggalkan anak isteri di jalan Allah ta’ala atau di tinggal anak laki-lakinya yang berjihad di jalan Allah ta’ala. Banyak para wanitapun demikian, mereka rela di tinggal lama suami kalau dalam rangka bekerja mencari dunia, atau tugas dari kantor atau tugas dari thaghut yang telah memberi mereka gaji bulanan dan pensiun di masa tua, tapi mereka kurang mendukung atau bahkan merintangi bila para suami pergi berjihad menjalankan tugas dari Allah ta’ala yang telah memberikan kehidupan kepada mereka semua dan yang memberikan jaminan kebahagiaan surga di masa depan yang sesungguhnya. Orang-orang hasil didikan para thaghut itu merasa bahagia bila anak-anak mereka sukses dunia dan usahanya walaupun kosong dari tauhid dan ‘amal jihadi, dan mereka merasa malu dan minder di tengah masyarakat bila anak-anak mereka berurusan dengan aparat thaghut atau keluar masuk penjara karena sebab tauhid dan ‘amal jihadinya, begitu pula para mertua minder bila menantunya wanita shalihah yang berpurdah atau laki-laki yang bertauhid yang sering berurusan dengan thaghut. Banyak orang tua yang berkeyakinan bahwa memasukkan anak-anak mereka ke sekolahan thaghut atau yang formal yang berbau kethaghutan itu seolah suatu kewajiban dan kemestian, sehingga merasa aib bila tidak memasukkan anak-anak itu ke dalamnya, dan malu bila anaknya tidak berijazah formal. Dan sungguh miris bila kita melihat orang-orang yang sudah mengenal tauhid dan mendukung jihad, namun mereka menyerahkan anak-anak mereka yang merupakan buah hatinya kepada sekolahan thaghut untuk dicetak sesuai apa yang diinginkan para thaghut.
Itulah hasil pendidikan thaghut yang melekat pada diri banyak orang atau sisa-sisa bekas pendidikan para thaghut yang masih tersisa dan menempel pada sebagian kaum muslimin. Kemusyrikan dan kemaksiatan yang mengotori fithrah. Kemusyrikan adalah najis yang mengotori dan menodai akal dan jiwa yang asalnya bersih.
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
‘Sesungguhnya kaum musyrikin itu adalah najis.” [At-Taubah: 28]
Najis di sini adalah najis maknawi yaitu kemusyrikan yang mengotori jiwa anak Adam yang asalnya berada diatas fithrah dan tauhid. Sehingga perlu dilakukan ghasluddimagh atau brain wash atau pencucian otak yang telah kotor dengan najis kemusyrikan dan kekafiran yang ditanamkan pendidikan thaghut dengan pembinaan tauhid yang benar lagi terarah supaya para pemuda yang dengan sebab pendidikan thaghut itu mereka telah menjadi kaum musyrikin yang loyal kepada pancasila, UUD 45, tanah air dan pemerintah kafir itu, mereka berbalik arah dan haluan menyatakan keberlepasan diri dari ajaran-ajaran kafir itu semuanya dan menentangnya serta bergabung bersama barisan tauhid dan jihad. Mereka memahami tujuan hidup dan cara menggapainya. Mereka paham sekarang bahwa pemerintah ini adalah pemerintah kafir, mereka paham bahwa selama ini diri mereka itu korban penipuan para ustadz dan ulama suu’ yang membius umat dengan ceramah dan kajian yang penuh racun dan bisa yang mematikan yang membuat umat tengkurap di hadapan thaghut yang menerima apa yang dicekokkan pemerintahan Fir’aun ini. Kini saatnya mengobati racun dan bisa itu dengan Al Qur’an dan As Sunnah agar mereka kembali kepada fithrah dan tauhid, dan tidak lama lagi kekafiran dan kemusyrikan itu akan sirna dan lenyap dengan cahaya tauhid dan sinar iman.
جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap.” [Al-Isra: 81]
Keterangan: Tulisan ini belum selesai, karena Ustadz Aman (Hafidzahullah) sudah dipindahkan ke tempat penahanan baru…
Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya. Wa Ba’du:
Sesungguhnya peperangan terhadap jihad dan mujahidin yang dilancarkan para thaghut dan segala elemennya, dan munculnya banyak pemuda yang tampil di barisan mujahidin lagi meninggalkan dunia mereka yang cerah dan serba ada, yang mana sebagian mereka adalah para pegawai di dinas thaghut yang menurut penilaian keumuman masyarakat bahwa orang-orang semacam itu adalah bermasa depan cerah. Maka kebergabungan mereka dengan tauhid dan jihad itu melahirkan tuduhan para thaghut dan para anteknya bahwa para pemuda itu telah mengalami pencucian otak (brain wash) yang dilakukan oleh para tokoh tauhid dan jihad.
Tuduhan para thaghut itu tidaklah salah, karena memang itu adalah realita dan sesuai dengan makna bahasa asal, di mana kata “mencuci” adalah membersihkan sesuatu yang pada asalnya bersih kemudian terkena kotoran dan noda sehingga dilakukan pembersihan dari kotoran-kotoran tersebut supaya kembali bersih seperti semula.
Begitu juga sesungguhnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan fithrah, bertauhid dan cenderung kepada kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap anak itu dilahirkan di atas fithrah.” [HR Muslim]
Fithrah di sini adalah tauhid atau Islam atau penghadapan wajah hanya kepada Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya ta’ala:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fithrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fithrah) itu.” [Ar Ruum: 30]
Juga di dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman:
إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ فَجَاءَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَأَضَلَّتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ
“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (bertauhid), kemudian syaitan-syaitan datang kepada mereka terus menyesatkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan terhadap mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka.” [HR Muslim]
Jadi nash-nash syar’iy diatas membuktikan bahwa semua orang yang dilahirkan ke bumi ini adalah berada di atas fithrah tauhid, keislaman dan keberserahan diri kepada Allah ta’ala sesuai dengan mitsaq tauhid yang telah Allah ta’ala ambil dari semua anak Adam sebelum terlahir ke dunia, sebagaimana firman-Nya:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” [Al A’raf: 172]
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah ta’ala telah mengambil mitsaq tauhid dari setiap insan sebelum terlahir ke dunia, yaitu kesaksian bahwa Allah adalah Sang Pencipta yang harus diibadati dan ditaati. Dan andaikata tidak ada faktor luar yang merubahnya dan mempengaruhinya tentulah manusia itu tetap di atas tauhid dan Islam, namun faktor luarlah yang menggiringnya keluar dari tauhid.
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ
“Maka kedua orang tuanya menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi.” [HR Muslim]
فَجَاءَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَأَضَلَّتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ
“Maka datanglah syaitan-syaitan kepada mereka, kemudian menyesatkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan terhadap mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka.” [HR Muslim]
Ya telah datang pemerintahan syaithan dengan segala makarnya dan tipu dayanya, dimana dengan sarana dan media pendidikannya para syaithan manusia telah menjauhkan anak-anak kaum muslimin dari tauhid yang benar dan mencekokinya dengan ajaran syaitan. Mereka menggiring anak-anak yang polos itu dengan ajaran pancasila dan agama demokrasi, mereka mentalqinkan sila-sila pancasila kepada anak didik, menjejali otaknya dengan butir-butir pancasila, layaknya para guru Islam mengajarkan rukun-rukun Islam dan penjelasannya. Mereka mendoktrin anak-anak itu dengan UUD 45, mengarahkannya agar loyal dan cinta kepadanya serta menjadikannya sebagai kitab rujukan menyaingi Al Qur’an. Mereka tanamkan nilai-nilai demokrasi di dalam jiwa anak didik sehingga ia melekat pada dirinya. Mereka giring anak didik untuk mencintai bendera dan tanah air. Mereka arahkan si anak untuk mencintai sesama warga negara walau berbeda agama dan keyakinan. Sehingga si anak terbentuk menjadi sekuler tanpa dia rasakan. Dia hanya mengetahui bahwa Islam itu sekedar pengucapan syahadat tanpa konsekuensi, shalat, zakat fithrah, zakat mal, shaum Ramadlan dan haji. Al Qur’an hanya sekedar bacaan tanpa amalan, dia tidak mengenal yang namanya al wala dan al bara, dan andaikata mengenal namanya namun tidak mengenal aplikasinya. Dia tidak mengenal yang namanya jihad qital. Dia hanya mengetahui sekolah, bekerja, menikah, berkumpul dengan keluarga atau bermain di hari liburan, itulah yang ditanamkan buku bacaan “ini budi”. Tidak mengenal yang namanya perpisahan dengan anak isteri untuk berjihad dan berjuang di jalan Allah. Begitulah beberapa generasi terbentuk dengan pola pendidikan syaitan yang dijalankan oleh pemerintah kafir ini. Laki-laki berkeyakinan bahwa puncak kebahagiaan adalah menikah dan memiliki anak cucu serta berkumpul dengan mereka di masa tua, di mana tidak ada pikiran meninggalkan anak isteri di jalan Allah ta’ala atau di tinggal anak laki-lakinya yang berjihad di jalan Allah ta’ala. Banyak para wanitapun demikian, mereka rela di tinggal lama suami kalau dalam rangka bekerja mencari dunia, atau tugas dari kantor atau tugas dari thaghut yang telah memberi mereka gaji bulanan dan pensiun di masa tua, tapi mereka kurang mendukung atau bahkan merintangi bila para suami pergi berjihad menjalankan tugas dari Allah ta’ala yang telah memberikan kehidupan kepada mereka semua dan yang memberikan jaminan kebahagiaan surga di masa depan yang sesungguhnya. Orang-orang hasil didikan para thaghut itu merasa bahagia bila anak-anak mereka sukses dunia dan usahanya walaupun kosong dari tauhid dan ‘amal jihadi, dan mereka merasa malu dan minder di tengah masyarakat bila anak-anak mereka berurusan dengan aparat thaghut atau keluar masuk penjara karena sebab tauhid dan ‘amal jihadinya, begitu pula para mertua minder bila menantunya wanita shalihah yang berpurdah atau laki-laki yang bertauhid yang sering berurusan dengan thaghut. Banyak orang tua yang berkeyakinan bahwa memasukkan anak-anak mereka ke sekolahan thaghut atau yang formal yang berbau kethaghutan itu seolah suatu kewajiban dan kemestian, sehingga merasa aib bila tidak memasukkan anak-anak itu ke dalamnya, dan malu bila anaknya tidak berijazah formal. Dan sungguh miris bila kita melihat orang-orang yang sudah mengenal tauhid dan mendukung jihad, namun mereka menyerahkan anak-anak mereka yang merupakan buah hatinya kepada sekolahan thaghut untuk dicetak sesuai apa yang diinginkan para thaghut.
Itulah hasil pendidikan thaghut yang melekat pada diri banyak orang atau sisa-sisa bekas pendidikan para thaghut yang masih tersisa dan menempel pada sebagian kaum muslimin. Kemusyrikan dan kemaksiatan yang mengotori fithrah. Kemusyrikan adalah najis yang mengotori dan menodai akal dan jiwa yang asalnya bersih.
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
‘Sesungguhnya kaum musyrikin itu adalah najis.” [At-Taubah: 28]
Najis di sini adalah najis maknawi yaitu kemusyrikan yang mengotori jiwa anak Adam yang asalnya berada diatas fithrah dan tauhid. Sehingga perlu dilakukan ghasluddimagh atau brain wash atau pencucian otak yang telah kotor dengan najis kemusyrikan dan kekafiran yang ditanamkan pendidikan thaghut dengan pembinaan tauhid yang benar lagi terarah supaya para pemuda yang dengan sebab pendidikan thaghut itu mereka telah menjadi kaum musyrikin yang loyal kepada pancasila, UUD 45, tanah air dan pemerintah kafir itu, mereka berbalik arah dan haluan menyatakan keberlepasan diri dari ajaran-ajaran kafir itu semuanya dan menentangnya serta bergabung bersama barisan tauhid dan jihad. Mereka memahami tujuan hidup dan cara menggapainya. Mereka paham sekarang bahwa pemerintah ini adalah pemerintah kafir, mereka paham bahwa selama ini diri mereka itu korban penipuan para ustadz dan ulama suu’ yang membius umat dengan ceramah dan kajian yang penuh racun dan bisa yang mematikan yang membuat umat tengkurap di hadapan thaghut yang menerima apa yang dicekokkan pemerintahan Fir’aun ini. Kini saatnya mengobati racun dan bisa itu dengan Al Qur’an dan As Sunnah agar mereka kembali kepada fithrah dan tauhid, dan tidak lama lagi kekafiran dan kemusyrikan itu akan sirna dan lenyap dengan cahaya tauhid dan sinar iman.
جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap.” [Al-Isra: 81]
Keterangan: Tulisan ini belum selesai, karena Ustadz Aman (Hafidzahullah) sudah dipindahkan ke tempat penahanan baru…
Sabtu, 05 Februari 2011
KEMATIAN MENDADAK SEBAGAI TANDA TANDA KIAMAT
Kematian Datang Tanpa Diundang
Sesungguhnya kematian merupakan misteri bagi manusia. Tak seorangpun yang tahu kapan datangnya. Namun satu kepastian bahwa ajal (waktu kematian) seseorang sudah tercatat jauh hari di Lauhul Mahfudz sebelum manusia diciptakan. Dan ketika seseorang sudah tiba ajalnya, maka tidak bisa diajukan barang sesaat ataupun diundurkan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)
Setelah kematian maka kesempatan beramal telah habis. Manusia akan mendapatkan balasan dari amal-amal perbuatannya di alam kubur, berupa nikmat atau adzab kubur. Dan ketika sudah terjadi kiamat, dia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah.
“Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(QS.Al-A’raf:35)
Sedangkan orang yang kafir dan ingkar terhadap kebenaran Islam, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”(QS.Al-A’raf:36)
Kematian Mendadak Semakin Marak di Akhir Zaman
Kasus Meninggal mendadak seperti yang terjadi pada Adjie Massaid sudah atau sering kita dengar dalam keseharian kita. Dan di akhir zaman, jumlahnya semakin banyak sebagimana yang diungkapkan oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa'ah.
Dalam kitabnya tersebut, Yusuf al-Wabil menyebutkan bahwa kematian yang datang tiba-tiba atau mendadak merupakan salah satu dari tanda dekatnya kiamat. Hal ini didasarkan pada beberapa kabar hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Salah satunya hadits marfu' dari Anas bin Malik radliyallah 'anhu,
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ . . . أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفُجْأَةِ
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah . . . akan banyak kematian mendadak." (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' al-Shaghir no. 5899)
Fenomena kematian mendadak ini sudah sering kita saksikan pada masa sekarang. Orang yang sebelumnya sehat bugar, -beraktifitas seperti biasa, atau bahkan berolah raga sepak bola, futsal, badminton dan semisalnya- tiba-tiba ia terjatuh lalu meninggal dunia. Hal ini dibenarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berdasarkan sebuah penelitian, setiap tahunnya banyak orang meninggal karena stroke dan serangan jantung. Bahkan disebutkan kalau penyakit jantung menempati urutan pertama yang banyak menyebabkan kematian pada saat ini.
Dalam hadits di atas terdapat mukjizat ilmiah yang kita benarkan melalui kajian kedokteran yang harus diakui. Mukjizat ini membuktikan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah utusan Allah yang tidak berbicara berdasar hawa nafsunya, tapi yang beliau sampaikan adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada beliau.
Rasanya orang yang hidup pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tak pernah membayangkan akan datangnya zaman yang merebaknya kematian mendadak, kecuali berdasarkan wahyu ilahi yang menyingkap fenomena ini.
Maksud Kematian Mendadak
Banyak sebab kematian, tapi kematian itu tetap satu. Hal ini menunjukkan bahwa kematian memiliki sebab, seperti sakit, kecelakaan, atau bunuh diri dan semisalnya. Sedangkan kematian yang tanpa didahului sebab itulah maksud kematian yang mendadak yang belum bisa diprediksi sebelumnya.
Seiring majunya ilmu kedokteran, manusia bisa menyingkap tentang sebab kematian seperti kanker, endemik, atau penyakit menular. Penyakit-penyakit ini mengisyaratkan dekatnya kematian, tetapi sebab yang utama adalah mandeknya jantung secara tiba-tiba yang datang tanpa memberi peringatan.
Para ulama mendefinisikan kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.
Imam al-Bukhari dalam shahihnya membuat sebuah bab, بَاب مَوْتِ الْفَجْأَةِ الْبَغْتَةِ "Bab kematian yang datang tiba-tiba". Kemudian beliau menyebutkan hadits Sa'ad bin 'Ubadah radliyallah 'anhu ketika berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku yakin seandainya ia berbicara sebelum itu, pastilah dia ingin bersedekah. Maka dari itu, apakah dia akan mendapat pahala apabila jika aku bersedekah untuknya?" Beliaupun menjawab, "Ya". (Muttafaq 'alaih)
. . . kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.
Kematian Mendadak Dalam Pandangan Ulama
Sebagian ulama salaf tidak menyukai kematian yang datang secara mendadak, karena dikhawatirkan tidak memberi kesempatan seseorang untuk meninggalkan wasiat dan mempersiapkan diri untuk bertaubat dan melakukan amal-amal shalih lainnya. Ketidaksukaan terhadap kematian mendadak ini dinukil Imam Ahmad dan sebagian ulama madzhab Syafi'i. Imam al-Nawawi menukil bahwa sejumlah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang shalih meninggal secara mendadak. An-Nawawi mengatakan, "Kematian mendadak itu disukai oleh para muqarrabin (orang yang senantiasa menjaga amal kebaikan karena merasa diawasi oleh Allah)." (Lihat (Fathul Baari: III/245)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Dengan demikian, kedua pendapat itu dapat disatukan." (Fathul Baari: III/255)
Terdapat keterangan yang menguatkan bahwa kematian mendadak bagi seorang mukmin tidak layak dicela. Dari Abdullah bin Mas'ud radliyallah 'anhu, dia berkata, "Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ini adalah lafadz Abdul Razaq dan al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, sedangkan lafadz Ibnu Abi Syaibah, "Kematian mendadak merupakan istirahat (ketenangan) bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang kafir." (HR. Abdul Razaq dalam al Mushannaf no. 6776, al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. no. 8865)
Dari Aisyah radliyallah 'anha, berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai kematian yang datang tiba-tiba. Lalu beliau menjawab,
رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِفَاجِرٍ
"Itu merupakan kenikmatan bagi seorang mukmin dan merupakan bencana bagi orang-orang jahat." (HR. Ahmad dalam al-Musnad no. 25042, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no. 10218. Syaikh al Albani mendhaifkannya dalam Dha'if al Jami' no. 5896)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dan Aisyah radliyallah 'anhuma, keduanya berkata, "Kematian yang datang mendadak merupakan bentuk kasih sayang bagi orang mukmin dan kemurkaan bagi orang dzalim." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf III/370, dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al Kubra III/379 secara mauquf).
Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya.
Alangkah indahnya hadits yang dijadikan sebagai penguat oleh Imam al-Baihaqi dalam al Sunan al-Kubra pada kitab "Al-Janaiz" Bab, "Fi Mautil Faj'ah", dari hadits Abu Qatadah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dilalui iring-iringan jenazah. Beliau lalu bersabda, "Yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa maksud yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya?" Beliau menjawab,
الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
"Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat (merasa aman dan tenang) darinya." (HR. Muslim no. 950, Ahmad no. 21531)
Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya. Sedangkan Kematian mendadak yang dialami seorang fajir merupakan kabar gembira bagi hamba Allah. Mereka akan terbebas dari gangguannya. Di antara gangguannya adalah kedzalimannya terhadap mereka, kesenangannya melakukan kemungkaran dan jika diingatkan malah menantang dan itu menyulitkan mereka. Jika diingatkan malah menyakiti dan bila didiamkan mereka menjadi berdosa. Sedangkan istirahatnya binatang adalah dikarenakan sang fajir tadi selalu menyakiti dan menyiksanya serta membebani di luar kemampuannya, tidak memberinya makan dan yang lainnya. Sedangkan istirahatnya negeri dan pepohonan adalah karena perbuatan jahat sang fajir hujan tidak turun, dia mengeruk kekayaannya dan tidak mengairinya.
"Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ibnu Mas'ud
Menyikapi Kematian Mendadak
Bagi orang yang berakal sehat tentu akan mengambil pelajaran dari fenomena yang ia saksikan. Terlebih fenomena tersebut telah disampaikan oleh orang yang terpercaya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka sepantasnya ia segera kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebelum kematian itu menjemputnya.
Imam al-Bukhari pernah berkata,
Peliharalah waktu ruku'mu ketika senggang.
Sebab, boleh jadi kematian akan datang secara tiba-tiba
Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar
Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba
Dan setelah memahami adanya kematian yang mendadak, dan semakin sering terjadi pada akhir zaman (termasuk zaman kita ini), hendaknya kita mempersiapkan diri dengan bersegera menyambut seruan Allah untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan perintah Allah yang paling utama adalah memurnikan tauhid kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, baik dalam masalah ibadah dan pengabdian, juga dalam masalah ketaatan dan ketundukan kepada syariat-Nya.
Sesungguhnya kematian akan tetap datang ke manapun kita lari dan di manapun kita sembunyi. Tidak ada kekuatan di alam raya yang bisa melawan ketetapan ilahi ini. Dan setelah kematian, setiap orang akan mendapat balasan dari amal yang telah dikerjakannya di dunia. Maka bertakwalah kepada Allah, Wahai hamba-hamba Allah! Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal ketika kematian datang dan minta diberi kesempatan untuk beramal. Sesungguhnya ajal tidak bisa ditangguhkan dan tidak bisa ditunda barang sesaat.
Ketahuilah! sesungguhnya dunia ini terus berjalan ke belakang meninggalkanmu, dan akhirat berjalan mendatangi. Ingatlah saat kematian dan perpindahan ke alam Barzah. Dan (ingatlah) yang akan tergambarkan di hadapanmu, berupa banyaknya keburukan dan sedikitnya kebaikan. Maka, apa yang ingin engkau amalkan pada saat itu, segeralah amalkan sejak hari ini. Dan apa yang ingin engkau tinggalkan saat itu, maka tinggalkanlah sejak sekarang.
Maka seandainya setelah mati, kamu dibiarkan. Sesungguhnya kematian itu merupakan kenyamanan bagi seluruh yang hidup. Namun. jika kamu telah mati, kamu pasti dibangkitkan dan akan ditanya tentang segala sesuatu, lalau diberi balasan dari setiap perbuatan. Kalau seperti itu, maka kematian merupakan sesuatu yang menakutkan dan menghawatirkan. Wallahu Ta’ala a’lam!
Sesungguhnya kematian merupakan misteri bagi manusia. Tak seorangpun yang tahu kapan datangnya. Namun satu kepastian bahwa ajal (waktu kematian) seseorang sudah tercatat jauh hari di Lauhul Mahfudz sebelum manusia diciptakan. Dan ketika seseorang sudah tiba ajalnya, maka tidak bisa diajukan barang sesaat ataupun diundurkan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)
Setelah kematian maka kesempatan beramal telah habis. Manusia akan mendapatkan balasan dari amal-amal perbuatannya di alam kubur, berupa nikmat atau adzab kubur. Dan ketika sudah terjadi kiamat, dia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah.
“Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(QS.Al-A’raf:35)
Sedangkan orang yang kafir dan ingkar terhadap kebenaran Islam, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”(QS.Al-A’raf:36)
Kematian Mendadak Semakin Marak di Akhir Zaman
Kasus Meninggal mendadak seperti yang terjadi pada Adjie Massaid sudah atau sering kita dengar dalam keseharian kita. Dan di akhir zaman, jumlahnya semakin banyak sebagimana yang diungkapkan oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa'ah.
Dalam kitabnya tersebut, Yusuf al-Wabil menyebutkan bahwa kematian yang datang tiba-tiba atau mendadak merupakan salah satu dari tanda dekatnya kiamat. Hal ini didasarkan pada beberapa kabar hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Salah satunya hadits marfu' dari Anas bin Malik radliyallah 'anhu,
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ . . . أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفُجْأَةِ
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah . . . akan banyak kematian mendadak." (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' al-Shaghir no. 5899)
Fenomena kematian mendadak ini sudah sering kita saksikan pada masa sekarang. Orang yang sebelumnya sehat bugar, -beraktifitas seperti biasa, atau bahkan berolah raga sepak bola, futsal, badminton dan semisalnya- tiba-tiba ia terjatuh lalu meninggal dunia. Hal ini dibenarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berdasarkan sebuah penelitian, setiap tahunnya banyak orang meninggal karena stroke dan serangan jantung. Bahkan disebutkan kalau penyakit jantung menempati urutan pertama yang banyak menyebabkan kematian pada saat ini.
Dalam hadits di atas terdapat mukjizat ilmiah yang kita benarkan melalui kajian kedokteran yang harus diakui. Mukjizat ini membuktikan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah utusan Allah yang tidak berbicara berdasar hawa nafsunya, tapi yang beliau sampaikan adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada beliau.
Rasanya orang yang hidup pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tak pernah membayangkan akan datangnya zaman yang merebaknya kematian mendadak, kecuali berdasarkan wahyu ilahi yang menyingkap fenomena ini.
Maksud Kematian Mendadak
Banyak sebab kematian, tapi kematian itu tetap satu. Hal ini menunjukkan bahwa kematian memiliki sebab, seperti sakit, kecelakaan, atau bunuh diri dan semisalnya. Sedangkan kematian yang tanpa didahului sebab itulah maksud kematian yang mendadak yang belum bisa diprediksi sebelumnya.
Seiring majunya ilmu kedokteran, manusia bisa menyingkap tentang sebab kematian seperti kanker, endemik, atau penyakit menular. Penyakit-penyakit ini mengisyaratkan dekatnya kematian, tetapi sebab yang utama adalah mandeknya jantung secara tiba-tiba yang datang tanpa memberi peringatan.
Para ulama mendefinisikan kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.
Imam al-Bukhari dalam shahihnya membuat sebuah bab, بَاب مَوْتِ الْفَجْأَةِ الْبَغْتَةِ "Bab kematian yang datang tiba-tiba". Kemudian beliau menyebutkan hadits Sa'ad bin 'Ubadah radliyallah 'anhu ketika berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku yakin seandainya ia berbicara sebelum itu, pastilah dia ingin bersedekah. Maka dari itu, apakah dia akan mendapat pahala apabila jika aku bersedekah untuknya?" Beliaupun menjawab, "Ya". (Muttafaq 'alaih)
. . . kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.
Kematian Mendadak Dalam Pandangan Ulama
Sebagian ulama salaf tidak menyukai kematian yang datang secara mendadak, karena dikhawatirkan tidak memberi kesempatan seseorang untuk meninggalkan wasiat dan mempersiapkan diri untuk bertaubat dan melakukan amal-amal shalih lainnya. Ketidaksukaan terhadap kematian mendadak ini dinukil Imam Ahmad dan sebagian ulama madzhab Syafi'i. Imam al-Nawawi menukil bahwa sejumlah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang shalih meninggal secara mendadak. An-Nawawi mengatakan, "Kematian mendadak itu disukai oleh para muqarrabin (orang yang senantiasa menjaga amal kebaikan karena merasa diawasi oleh Allah)." (Lihat (Fathul Baari: III/245)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Dengan demikian, kedua pendapat itu dapat disatukan." (Fathul Baari: III/255)
Terdapat keterangan yang menguatkan bahwa kematian mendadak bagi seorang mukmin tidak layak dicela. Dari Abdullah bin Mas'ud radliyallah 'anhu, dia berkata, "Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ini adalah lafadz Abdul Razaq dan al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, sedangkan lafadz Ibnu Abi Syaibah, "Kematian mendadak merupakan istirahat (ketenangan) bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang kafir." (HR. Abdul Razaq dalam al Mushannaf no. 6776, al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. no. 8865)
Dari Aisyah radliyallah 'anha, berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai kematian yang datang tiba-tiba. Lalu beliau menjawab,
رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِفَاجِرٍ
"Itu merupakan kenikmatan bagi seorang mukmin dan merupakan bencana bagi orang-orang jahat." (HR. Ahmad dalam al-Musnad no. 25042, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no. 10218. Syaikh al Albani mendhaifkannya dalam Dha'if al Jami' no. 5896)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dan Aisyah radliyallah 'anhuma, keduanya berkata, "Kematian yang datang mendadak merupakan bentuk kasih sayang bagi orang mukmin dan kemurkaan bagi orang dzalim." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf III/370, dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al Kubra III/379 secara mauquf).
Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya.
Alangkah indahnya hadits yang dijadikan sebagai penguat oleh Imam al-Baihaqi dalam al Sunan al-Kubra pada kitab "Al-Janaiz" Bab, "Fi Mautil Faj'ah", dari hadits Abu Qatadah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dilalui iring-iringan jenazah. Beliau lalu bersabda, "Yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa maksud yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya?" Beliau menjawab,
الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
"Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat (merasa aman dan tenang) darinya." (HR. Muslim no. 950, Ahmad no. 21531)
Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya. Sedangkan Kematian mendadak yang dialami seorang fajir merupakan kabar gembira bagi hamba Allah. Mereka akan terbebas dari gangguannya. Di antara gangguannya adalah kedzalimannya terhadap mereka, kesenangannya melakukan kemungkaran dan jika diingatkan malah menantang dan itu menyulitkan mereka. Jika diingatkan malah menyakiti dan bila didiamkan mereka menjadi berdosa. Sedangkan istirahatnya binatang adalah dikarenakan sang fajir tadi selalu menyakiti dan menyiksanya serta membebani di luar kemampuannya, tidak memberinya makan dan yang lainnya. Sedangkan istirahatnya negeri dan pepohonan adalah karena perbuatan jahat sang fajir hujan tidak turun, dia mengeruk kekayaannya dan tidak mengairinya.
"Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ibnu Mas'ud
Menyikapi Kematian Mendadak
Bagi orang yang berakal sehat tentu akan mengambil pelajaran dari fenomena yang ia saksikan. Terlebih fenomena tersebut telah disampaikan oleh orang yang terpercaya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka sepantasnya ia segera kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebelum kematian itu menjemputnya.
Imam al-Bukhari pernah berkata,
Peliharalah waktu ruku'mu ketika senggang.
Sebab, boleh jadi kematian akan datang secara tiba-tiba
Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar
Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba
Dan setelah memahami adanya kematian yang mendadak, dan semakin sering terjadi pada akhir zaman (termasuk zaman kita ini), hendaknya kita mempersiapkan diri dengan bersegera menyambut seruan Allah untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan perintah Allah yang paling utama adalah memurnikan tauhid kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, baik dalam masalah ibadah dan pengabdian, juga dalam masalah ketaatan dan ketundukan kepada syariat-Nya.
Sesungguhnya kematian akan tetap datang ke manapun kita lari dan di manapun kita sembunyi. Tidak ada kekuatan di alam raya yang bisa melawan ketetapan ilahi ini. Dan setelah kematian, setiap orang akan mendapat balasan dari amal yang telah dikerjakannya di dunia. Maka bertakwalah kepada Allah, Wahai hamba-hamba Allah! Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal ketika kematian datang dan minta diberi kesempatan untuk beramal. Sesungguhnya ajal tidak bisa ditangguhkan dan tidak bisa ditunda barang sesaat.
Ketahuilah! sesungguhnya dunia ini terus berjalan ke belakang meninggalkanmu, dan akhirat berjalan mendatangi. Ingatlah saat kematian dan perpindahan ke alam Barzah. Dan (ingatlah) yang akan tergambarkan di hadapanmu, berupa banyaknya keburukan dan sedikitnya kebaikan. Maka, apa yang ingin engkau amalkan pada saat itu, segeralah amalkan sejak hari ini. Dan apa yang ingin engkau tinggalkan saat itu, maka tinggalkanlah sejak sekarang.
Maka seandainya setelah mati, kamu dibiarkan. Sesungguhnya kematian itu merupakan kenyamanan bagi seluruh yang hidup. Namun. jika kamu telah mati, kamu pasti dibangkitkan dan akan ditanya tentang segala sesuatu, lalau diberi balasan dari setiap perbuatan. Kalau seperti itu, maka kematian merupakan sesuatu yang menakutkan dan menghawatirkan. Wallahu Ta’ala a’lam!
Rabu, 02 Februari 2011
Sinyalemen Nabi: Banyak Pemimpin Bejat dan Hina di Akhir Zaman
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah memberikan kekuasaan untuk memegang urusan masyarakat kecuali kepada orang paling baik dan paling mengerti, demikian pula yang dilakukan para khalifah sesudahnya.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, dari Hudzaifah rahimahullaah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada penduduk Najran,
لَأَبْعَثَنَّ إِلَيْكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ فَاسْتَشْرَفَ لَهَا أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ
“Sungguh aku akan mengirim kepada kalian orang kepercayaan yang betul-betul dapat dipercaya.” Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam merasa mulia (berkeinginan) dengan hal itu. Lalu beliau mengutus Abu Ubaidah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini berbeda dengan kondisi di akhir zaman, banyak sekali orang yang bejat lagi hina, tidak berilmu dan tidak bertakwa menduduki posisi penting di tengah-tengah umat dan menentukan kebijakan untuk umum. Dan ini merupakan sebagian dari tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)
Dan dalam hadits Jibril yang panjang, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan tentang dekatnya kiamat yang ditandai dengan banyaknya pemimpin yang hina,
وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا كَانَتْ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا
“Tetapi akau akan sampaikan kepadamu tentang tanda-tandanya, yaitu apabila budak wanita melahirkan tuannya, maka itu bagian dari tanda-tandanya. Dan apabila orang-orang yang tidak berpakaian dan tidak beralas kaki menjadi pemimpin manusia, maka itu bagian dari tanda-tandanya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ
“Hari kiamat tidak terjadi hingga manusia yang paling bahagia dia dunia ialah Luka’ bin Luka’.” (al-Tirmidzi dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, no. 2365 dan Shahih al-Jami’, no. 7431)
Dalam Shahih Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik, “Dunia tidak akan habis hingga ada pada Luka’ bin Luka’.”
Dan dalam riwayat Thabrani, dari hadits Abu Dzar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْلِبَ عَلَى الدُّنيا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ
“Hari kiamat tidak akan terjadi hingga yang berkuasa di dunia ialah Luka’ bin Luka’.”
Luka’ menurut bangsa Arab artinya budak. Ada juga yang mengartikan kotoran. Kemudian kata ini digunakan untuk menunjukkan kebodohan dan kehinaan orang jahil dan tercela. Kadang-kadang kata Luka’ juga digunakan untuk anak kecil. Dan jika digunakan untuk orang dewasa, maka yang dimaksud adalah orang yang kecil ilmu dan akalnya. (Lihat: Nihayah fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir: 4/268)
Menurut Syaikh Yusuf al-Wabil dalam Asyratus Sa’ah, kondisi seperti yang disebutkan di atas sudah terjadi di zaman sekarang. Dan dalam realita sekarang kita saksikan banyak pemimpin-pemimpin yang gemar membangun pencitraan sehingga banyak rakyat yang tertipu dengannya dan memujinya, “Alangkah hebatnya!, alangkah baiknya!, alangkah amanahnya!, alangkah bagus akhlaknya!,” dan pujian-pujian lainnya. Padahal pemimpin-pemimpin tersebut adalah makhluk yang sangat durhaka kepada Tuhannya, minim pemahaman agama dan penerapannya. Bahkan, ia sebenarnya orang yang sangat tidak amanah dan suka berdusta. Tidak memikirkan rakyat kecil dan tidak menunaikan hak-hak mereka. Malah sebaliknya, ia gemar menumpuk kekayaan dan membangun istananya. Dan dosanya diperparah dengan memusuhi kaum muslimin yang istiqamah memegang agamanya dan berusaha menghancurkan Islam sampai akar-akarnya.
Maka tepatlah hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya, dari Hudzaifah mengenai hadits diangkatnya amanat,
لَا يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّي الْأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِي بَنِي فُلَانٍ رَجُلًا أَمِينًا حَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ مَا أَظْرَفَهُ مَا أَعْقَلَهُ وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ
“Hampir-hmapir tak ada seorangpun yang melaksanakan amanat sehingga dikatakan, ‘sesungguhnya di tengah-tengah Bani fulan ada seorang laki-laki yang sangat amanat’ sehingga dikatakan kepada seseorang, ‘alangkah sabarnya, alangkah cermatnya, alangkah pandainya,’ padahal di dalam hatinya tidak ada iman walaupun seberat biji sawi.” Laa haula walaa quwwata Illaa billah.
Pemimpin-pemimpin bejat suka membangun pencitraan dan menipu rakyat, padahal -sebenarnya- mereka adalah makhluk yang sangat durhaka kepada Tuhannya, minim pemahaman agama dan penerapannya. . .
. . . Dan dosanya diperparah dengan memusuhi kaum muslimin yang istiqamah memegang agamanya dan berusaha menghancurkan Islam sampai akar-akarnya.
Pemimpin Bejat: Menyesatkan Umat Manusia dan Menghancurkan Islam
Keberadaan para pemimpin bejat zalim lagi jahil seperti yang diberitakan di atas sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah: 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316)
Menurut penulis Fath al-Majid, penggunaan kata Innama yang mengandung makna al-hashr (pembatasan/penghususan) menjelaskan bahwa beliau sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan.
Bahkan fitnah yang ditimbulkannya lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu pernah pertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal. Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.” (HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya.)
AL-AIMMAH AL-MUDHILLIN (para pemimpin penyesat umat) masuk di dalamnya para umara (pemimpin pemerintahan), ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak dzalim, dictator dan kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat.
Para ulama yang menjadi pemimpin menyesatkan karena mereka menyembunyikan ilmu dan merubah-rubahnya. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwatnya atau kepentingan para pemimpinnya.
Sedangkan para ahli ibadah yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka suka membuat tata cara ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka ditiru dan diidolakan. Apalagi kalau mereka sampai memotifasi umat untuk melaksanakannya. Akibatnya, dia sesat dan menyesatkan manusia. Keberadaan mereka itulah yang menyebabkan Islam akan roboh. Dari Ziyad bin Hudair berkata. Umar radhiyallahu 'anhu berkata kepadaku, “Apakah engkau tahu apa yang akan menghancurkan Islam?” Aku (Ziyad) menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Yang akan menghancurkannya adalah menyimpangnya ulama, gugatan orang munafik terhadap Al-Kitab, dan hukum para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. al-Daarimi. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Takhrij al-Misykah (1/89), “sanadnya shahih.”)
Penutup
Jika kita mau jujur menimbang pemerintahan yang ada sekarang, rasa-rasanya keburukan dan kejahatannya sudah tersiratkan oleh hadits-hadits di atas. Dan jika pemimpin dan penguasa seperti itu sifatnya, maka semua urusan akan jungkir balik. Akibatnya, pembohong dipercaya, orang jujur didustakan, penghianat diberi amanat, orang terpercaya dihianati dan didustakan, orang bodoh berbicara, orang alim dipenjara dan dilarang bicara. Kondisi ini persis seperti yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu diangkat dan tersebarnya kebodohan.” (Muttafaq ‘Alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Semoga Allah memberikan kepada kita para pemimpin yang takut kepada Allah dan memiliki sifat amanah, mengasihi rakyat dan tidak suka hidup mewah, menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, cinta syariat dan anti khianat. Amiin, yaa Rabbal ‘alamin. [PurWD/voa-islam.com]
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah memberikan kekuasaan untuk memegang urusan masyarakat kecuali kepada orang paling baik dan paling mengerti, demikian pula yang dilakukan para khalifah sesudahnya.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya, dari Hudzaifah rahimahullaah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada penduduk Najran,
لَأَبْعَثَنَّ إِلَيْكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ فَاسْتَشْرَفَ لَهَا أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ
“Sungguh aku akan mengirim kepada kalian orang kepercayaan yang betul-betul dapat dipercaya.” Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam merasa mulia (berkeinginan) dengan hal itu. Lalu beliau mengutus Abu Ubaidah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini berbeda dengan kondisi di akhir zaman, banyak sekali orang yang bejat lagi hina, tidak berilmu dan tidak bertakwa menduduki posisi penting di tengah-tengah umat dan menentukan kebijakan untuk umum. Dan ini merupakan sebagian dari tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)
Dan dalam hadits Jibril yang panjang, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan tentang dekatnya kiamat yang ditandai dengan banyaknya pemimpin yang hina,
وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا كَانَتْ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا
“Tetapi akau akan sampaikan kepadamu tentang tanda-tandanya, yaitu apabila budak wanita melahirkan tuannya, maka itu bagian dari tanda-tandanya. Dan apabila orang-orang yang tidak berpakaian dan tidak beralas kaki menjadi pemimpin manusia, maka itu bagian dari tanda-tandanya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ
“Hari kiamat tidak terjadi hingga manusia yang paling bahagia dia dunia ialah Luka’ bin Luka’.” (al-Tirmidzi dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah, no. 2365 dan Shahih al-Jami’, no. 7431)
Dalam Shahih Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik, “Dunia tidak akan habis hingga ada pada Luka’ bin Luka’.”
Dan dalam riwayat Thabrani, dari hadits Abu Dzar, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْلِبَ عَلَى الدُّنيا لُكَعُ بْنُ لُكَعٍ
“Hari kiamat tidak akan terjadi hingga yang berkuasa di dunia ialah Luka’ bin Luka’.”
Luka’ menurut bangsa Arab artinya budak. Ada juga yang mengartikan kotoran. Kemudian kata ini digunakan untuk menunjukkan kebodohan dan kehinaan orang jahil dan tercela. Kadang-kadang kata Luka’ juga digunakan untuk anak kecil. Dan jika digunakan untuk orang dewasa, maka yang dimaksud adalah orang yang kecil ilmu dan akalnya. (Lihat: Nihayah fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir: 4/268)
Menurut Syaikh Yusuf al-Wabil dalam Asyratus Sa’ah, kondisi seperti yang disebutkan di atas sudah terjadi di zaman sekarang. Dan dalam realita sekarang kita saksikan banyak pemimpin-pemimpin yang gemar membangun pencitraan sehingga banyak rakyat yang tertipu dengannya dan memujinya, “Alangkah hebatnya!, alangkah baiknya!, alangkah amanahnya!, alangkah bagus akhlaknya!,” dan pujian-pujian lainnya. Padahal pemimpin-pemimpin tersebut adalah makhluk yang sangat durhaka kepada Tuhannya, minim pemahaman agama dan penerapannya. Bahkan, ia sebenarnya orang yang sangat tidak amanah dan suka berdusta. Tidak memikirkan rakyat kecil dan tidak menunaikan hak-hak mereka. Malah sebaliknya, ia gemar menumpuk kekayaan dan membangun istananya. Dan dosanya diperparah dengan memusuhi kaum muslimin yang istiqamah memegang agamanya dan berusaha menghancurkan Islam sampai akar-akarnya.
Maka tepatlah hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari dan Muslim dalam shahih keduanya, dari Hudzaifah mengenai hadits diangkatnya amanat,
لَا يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّي الْأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِي بَنِي فُلَانٍ رَجُلًا أَمِينًا حَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ مَا أَظْرَفَهُ مَا أَعْقَلَهُ وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ
“Hampir-hmapir tak ada seorangpun yang melaksanakan amanat sehingga dikatakan, ‘sesungguhnya di tengah-tengah Bani fulan ada seorang laki-laki yang sangat amanat’ sehingga dikatakan kepada seseorang, ‘alangkah sabarnya, alangkah cermatnya, alangkah pandainya,’ padahal di dalam hatinya tidak ada iman walaupun seberat biji sawi.” Laa haula walaa quwwata Illaa billah.
Pemimpin-pemimpin bejat suka membangun pencitraan dan menipu rakyat, padahal -sebenarnya- mereka adalah makhluk yang sangat durhaka kepada Tuhannya, minim pemahaman agama dan penerapannya. . .
. . . Dan dosanya diperparah dengan memusuhi kaum muslimin yang istiqamah memegang agamanya dan berusaha menghancurkan Islam sampai akar-akarnya.
Pemimpin Bejat: Menyesatkan Umat Manusia dan Menghancurkan Islam
Keberadaan para pemimpin bejat zalim lagi jahil seperti yang diberitakan di atas sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah: 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316)
Menurut penulis Fath al-Majid, penggunaan kata Innama yang mengandung makna al-hashr (pembatasan/penghususan) menjelaskan bahwa beliau sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan.
Bahkan fitnah yang ditimbulkannya lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar radhiyallahu 'anhu pernah pertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal. Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.” (HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya.)
AL-AIMMAH AL-MUDHILLIN (para pemimpin penyesat umat) masuk di dalamnya para umara (pemimpin pemerintahan), ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak dzalim, dictator dan kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat.
Para ulama yang menjadi pemimpin menyesatkan karena mereka menyembunyikan ilmu dan merubah-rubahnya. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwatnya atau kepentingan para pemimpinnya.
Sedangkan para ahli ibadah yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka suka membuat tata cara ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka ditiru dan diidolakan. Apalagi kalau mereka sampai memotifasi umat untuk melaksanakannya. Akibatnya, dia sesat dan menyesatkan manusia. Keberadaan mereka itulah yang menyebabkan Islam akan roboh. Dari Ziyad bin Hudair berkata. Umar radhiyallahu 'anhu berkata kepadaku, “Apakah engkau tahu apa yang akan menghancurkan Islam?” Aku (Ziyad) menjawab, “Tidak.” Beliau berkata, “Yang akan menghancurkannya adalah menyimpangnya ulama, gugatan orang munafik terhadap Al-Kitab, dan hukum para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. al-Daarimi. Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Takhrij al-Misykah (1/89), “sanadnya shahih.”)
Penutup
Jika kita mau jujur menimbang pemerintahan yang ada sekarang, rasa-rasanya keburukan dan kejahatannya sudah tersiratkan oleh hadits-hadits di atas. Dan jika pemimpin dan penguasa seperti itu sifatnya, maka semua urusan akan jungkir balik. Akibatnya, pembohong dipercaya, orang jujur didustakan, penghianat diberi amanat, orang terpercaya dihianati dan didustakan, orang bodoh berbicara, orang alim dipenjara dan dilarang bicara. Kondisi ini persis seperti yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu diangkat dan tersebarnya kebodohan.” (Muttafaq ‘Alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Semoga Allah memberikan kepada kita para pemimpin yang takut kepada Allah dan memiliki sifat amanah, mengasihi rakyat dan tidak suka hidup mewah, menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, cinta syariat dan anti khianat. Amiin, yaa Rabbal ‘alamin. [PurWD/voa-islam.com]
Sabtu, 25 Desember 2010
NUKILAN DARI SYAIKH MUHAMMAD AMIN ASY SYINQTHY TENTANG PENERAPAN HUKUM BUATAN MANUSIA
Oleh: Ust Abu Sulaiman Aman Abdurrahman
Cukuplah untuk menjelaskan kekafiran penguasa-penguasa negara ini (yang memberlakukan undang-undang buatan manusia) kami tuturkan perkataan Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithy rahimahullah, karena yang dibutuhkan adalah ikhtishar (ringkas) saja.
Beliau Berkata: “Termasuk petunjuk Al Qur’an terhadap jalan yang paling lurus adalah penjelasannya bahwa setiap orang yang mengikuti hukum (tasyri) selain hukum yang dibawa oleh penghulu anak Adam Muhammad Ibnu Adillah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka ikutnya terhadap hukum yang menyelisihi itu adalah kufrun bawwah (kekafiran yang nyata) yang mengeluarkan dari Millah Islamiyyah.” Kekafiran yang lebih jelas dari sinar matahari di siang bolong dan silakan rujuk: [Adlwa-ul Bayan 3/324]
Ketahuilah bahwa pembuat hukum dan perundangan adalah corong syaitan ditengah manusia. (penulis)
Dan berkata juga: “Dan bisa dipahami dari ayat-ayat ini, seperti firman-Nya:
4 $tB Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrß `ÏB
“Dan Dia tidak menyertakan seorangpun dalam hukum-Nya.” (Q.S. Al Kahfi [18]: 26) Bahwa orang-orang yang mengikuti aturan-aturan para pembuat hukum selain apa yang telah Allah syariatkan sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik.” [Adlwa-ul Bayan: 4/65]
Dan berkata juga: “Dan dengan nash-nash samawi yang telah kami sebutkan ini, jelaslah dengan sejelas-jelasnya bahwa orang-orang yang mengikuti qawanin wadl’iyyah yang ditetapkan oleh syaitan lewat lisan-lisan para walinya seraya menyelisihi apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala syariatkan lewat lisan-lisan para rasul-Nya ‘alaihimussalam, sesungguhnya tidak ada yang meragukan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang telah Allah hapus bashirahnya dan Allah butakan dari cahaya wahyu seperti mereka.” [Adlwa-ul Bayan: 4/66]
Dan berkata juga: “Ketahuilah wahai ikhwan, bahwa penyekutuan Allah dalam hukum-Nya dan penyekutuan-Nya dalam ibadah kepada-Nya, semuanya satu tidak ada perbedaan sama sekali di antara keduanya. Orang yang mengikuti aturan selain aturan Allah dan hukum selain hukum Allah (atau selain apa yang Allah syariatkan) serta undang-undang yang menyelisihi syariat Allah, yang dibuat oleh manusia seraya berpaling dari cahaya langit yang Allah turunkan lewat lisan Rasul-Nya, orang yang seperti ini dan orang yang menyembah patung dan sujud kepada berhala adalah sama sekali tidak ada perbedaan di antara keduanya, keduanya satu (status) dan keduanya musyrik terhadap Allah.” [Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaa-Il Bayan, Abdurrahman Ibnu ‘Abdil Aziz As Sudais: 52 Dar Thibah Cet. I 1412]
Dan berkata juga: “Sesungguhnya setiap orang yang mengikuti aturan, hukum, dan undang-undang yang menyelisihi apa yang Allah syariatkan lewat lisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka dia musyrik terhadap Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai Rabb (Tuhan).” [Al Hakimiyyah: 56]
Dan berkata juga: “Dan syirik yang disebutkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kalian adalah benar-benar musyrikun.” Adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari millah Islam dengan ijma kaum muslimin.” [Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaa-Il Bayan, Abdurrahman Ibnu ‘Abdil Aziz As Sudais: 56 Dar Thibah Cet. I 1412]
Dan berkata juga: “Mereka itu tidak mengibadatinya dengan sujud dan ruku’ namun mereka mengibadatinya dengan cara mengikuti aturan, hukum, dan undang-undang.” [Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaa-Il Bayan, Abdurrahman Ibnu ‘Abdil Aziz As Sudais: 57 Dar Thibah Cet. I 1412]
Dan adapun nukilan-nukilan ulama lainnya serta penjabarannya, maka rujuk tulisan saya: Asy Syirku Fil Hukmi Kasy Syirki Fil ‘Ibadah.
Kemudian saya katakan kepada kalian dengan lantang dan jelas bahwa negara ini adalah negara kafir, biarlah terjadi apa yang terjadi dalam taqdir, tidak ada sikap lunak dan basa-basi dalam masalah keyakinan. Ajal sudah ditentukan dan rizki juga sudah dibagi-bagi. Dan tidak akan mati satu jiwapun kecuali setelah menyempurnakan rizki dan ajalnya.
Bahkan para penguasa negeri ini sendiri yang terang-terangan menyatakan bahwa negara ini bukan negara Islam, dan mereka justeru marah terhadap orang yang menyatakan: “Kami ingin negara Islam atau bahwa ini adalah negara Islam”. Pengakuan mereka itu adalah saksi yang paling adil dan paling kuat daripada yang lain. Ya Allah saksikanlah…
Bahkan negara yang jauh lebih baik dari negara ini, yaitu negara Turki Utsmani, sungguh para imam dakwah Najdiyyah telah banyak berkomentar tentangnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz Ibnu shalih Al Jarbu’.
Ini Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah Ibnu Syaikh (Muhammad) yang wafat tahun 1233 H rahimahullah, tatkala Turki Utsmani menyerang negeri Tauhid -sebagian wilayah jazirah Arab- telah menulis risalah yang beliau beri judul Ad Dalaail, di dalamnya beliau jelaskan kemurtaddan orang-orang itu (Turki Utsmani) bahkan kemurtaddan orang yang membantu dan mendukung mereka dari kaum muslimin. Beliau namakan pasukan mereka itu sebagai Junuud Al Qubaab Wasy Syirki (Pasukan Kubah dan Syirik) [Lihat Ad Durar As Saniyyah: 1/397 Cet. II dan lihat pula jilid IX dan X dalam Ad Durar.]
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiqrahimahullah yang wafat tahun 1301 H menulis kitab dalam membongkar Turki Utsmaniy dan menjelaskan kesesatannya, beliau beri judul Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wal Atrak.
Kemudian Syaikh Al Jarbuu’ berkata: “Dan dalam syair Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah ada yang menunjukan pedasnya kecaman atas penyelisihan Turki Utsmani terhadap syariat Allah yang padahal orang-orang masa sekarang menyebutnya sebagai khilafah Islamiyyah…!!, Syaikh Sulaiman rahimahullah berkata:
Dan apa yang dikatakan terhadap orang-orang Turki dalam penyebaran kekafiran mereka…
Adalah benar, mereka itu tergolong orang-orang yang paling kafir dalam semua ajaran…
Permusuhan dan keburukan mereka terhadap kaum muslimin…
Melambung dan menggelembung dalam kesesatan atas semua agama…
Dan siapa yang loyal kepada orang-orang kafir maka seperti mereka…
Dan tidak ragu dalam pengkafirannya menurut orang yang berakal…
Dan orang yang terkadang sedikit loyal dan cenderung kepada mereka…
Maka tidak ragu dalam vonis fasiq baginya dan ia merasa takut…!
Dan sama persis apa yang dikatakan oleh muridnya Syaikh Husein Ibnu Ali rahimahullah:
Wahai Negara Turki semoga tak kembali kejayaan kalian…
Atas kami dan kalian tidak kembali di tanah air kami…
Kalian berkuasa, namun kalian menyalahi jalan Nabi kami…
Dan kalian halalkan kemungkaran-kemungkaran dan minuman keras…
Kalian jadikan syiar kaum musyrikin sebagai syiar kalian…
Namun terhadap kemusyrikan kalian lebih cepat dari mereka…
Kalian membekali diri kalian dengan ajaran agama orang-orang Nashrani…
Maka kebusukan di atas kebusukan besar yang kalian pikul…
Enyahlah kalian … binasalah kalian … kecewalah kalian…
Dan juga orang yang senang dengan kalian dan cenderung kepada kalian…!!!
Dan ungkapan seperti itu dilontarkan juga oleh Syaikh Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Salim, Syaikh Abdullah Ibnu ‘Abdillathif, Syaikh Abdirrahman Ibnu ‘Abdillathif Ibnu ‘Abdillah Alu Asy Syaikh. Banyak sekali, panjang sekali bila disebutkan, keadaannya terus berlangsung hingga masalahnya sampai kepada kita, kemudian kita merubah manhaj Salaf seraya kita mengaku benar di dalamnya, wallaahul musta’an.” [lihat kitab Al Warif Fi Masyu’iyyatit Tatsrib ‘Alal Mukhalif: 37-40]
Ini ungkapan para ulama tentang Negara Turki Ustmani, maka apa gerangan dengan Negara Indonesia ini…?
Apa pendapat kalian bila seseorang berkata: “Saya muslim dan saya tidak ingin menerapkan hukum-hukum Islam dalam hidup saya.” Apakah sah bila seseorang di antara kita mengatakan tentang orang ini: “Dia muslim karena , mengucapkan dua kalimat syahadat, masih shalat dan…. dan ?!!
Cukuplah untuk menjelaskan kekafiran penguasa-penguasa negara ini (yang memberlakukan undang-undang buatan manusia) kami tuturkan perkataan Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithy rahimahullah, karena yang dibutuhkan adalah ikhtishar (ringkas) saja.
Beliau Berkata: “Termasuk petunjuk Al Qur’an terhadap jalan yang paling lurus adalah penjelasannya bahwa setiap orang yang mengikuti hukum (tasyri) selain hukum yang dibawa oleh penghulu anak Adam Muhammad Ibnu Adillah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka ikutnya terhadap hukum yang menyelisihi itu adalah kufrun bawwah (kekafiran yang nyata) yang mengeluarkan dari Millah Islamiyyah.” Kekafiran yang lebih jelas dari sinar matahari di siang bolong dan silakan rujuk: [Adlwa-ul Bayan 3/324]
Ketahuilah bahwa pembuat hukum dan perundangan adalah corong syaitan ditengah manusia. (penulis)
Dan berkata juga: “Dan bisa dipahami dari ayat-ayat ini, seperti firman-Nya:
4 $tB Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrß `ÏB
Dan berkata juga: “Dan dengan nash-nash samawi yang telah kami sebutkan ini, jelaslah dengan sejelas-jelasnya bahwa orang-orang yang mengikuti qawanin wadl’iyyah yang ditetapkan oleh syaitan lewat lisan-lisan para walinya seraya menyelisihi apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala syariatkan lewat lisan-lisan para rasul-Nya ‘alaihimussalam, sesungguhnya tidak ada yang meragukan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang telah Allah hapus bashirahnya dan Allah butakan dari cahaya wahyu seperti mereka.” [Adlwa-ul Bayan: 4/66]
Dan berkata juga: “Ketahuilah wahai ikhwan, bahwa penyekutuan Allah dalam hukum-Nya dan penyekutuan-Nya dalam ibadah kepada-Nya, semuanya satu tidak ada perbedaan sama sekali di antara keduanya. Orang yang mengikuti aturan selain aturan Allah dan hukum selain hukum Allah (atau selain apa yang Allah syariatkan) serta undang-undang yang menyelisihi syariat Allah, yang dibuat oleh manusia seraya berpaling dari cahaya langit yang Allah turunkan lewat lisan Rasul-Nya, orang yang seperti ini dan orang yang menyembah patung dan sujud kepada berhala adalah sama sekali tidak ada perbedaan di antara keduanya, keduanya satu (status) dan keduanya musyrik terhadap Allah.” [Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaa-Il Bayan, Abdurrahman Ibnu ‘Abdil Aziz As Sudais: 52 Dar Thibah Cet. I 1412]
Dan berkata juga: “Sesungguhnya setiap orang yang mengikuti aturan, hukum, dan undang-undang yang menyelisihi apa yang Allah syariatkan lewat lisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka dia musyrik terhadap Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai Rabb (Tuhan).” [Al Hakimiyyah: 56]
Dan berkata juga: “Dan syirik yang disebutkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kalian adalah benar-benar musyrikun.” Adalah syirik akbar yang mengeluarkan dari millah Islam dengan ijma kaum muslimin.” [Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaa-Il Bayan, Abdurrahman Ibnu ‘Abdil Aziz As Sudais: 56 Dar Thibah Cet. I 1412]
Dan berkata juga: “Mereka itu tidak mengibadatinya dengan sujud dan ruku’ namun mereka mengibadatinya dengan cara mengikuti aturan, hukum, dan undang-undang.” [Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaa-Il Bayan, Abdurrahman Ibnu ‘Abdil Aziz As Sudais: 57 Dar Thibah Cet. I 1412]
Dan adapun nukilan-nukilan ulama lainnya serta penjabarannya, maka rujuk tulisan saya: Asy Syirku Fil Hukmi Kasy Syirki Fil ‘Ibadah.
Kemudian saya katakan kepada kalian dengan lantang dan jelas bahwa negara ini adalah negara kafir, biarlah terjadi apa yang terjadi dalam taqdir, tidak ada sikap lunak dan basa-basi dalam masalah keyakinan. Ajal sudah ditentukan dan rizki juga sudah dibagi-bagi. Dan tidak akan mati satu jiwapun kecuali setelah menyempurnakan rizki dan ajalnya.
Bahkan para penguasa negeri ini sendiri yang terang-terangan menyatakan bahwa negara ini bukan negara Islam, dan mereka justeru marah terhadap orang yang menyatakan: “Kami ingin negara Islam atau bahwa ini adalah negara Islam”. Pengakuan mereka itu adalah saksi yang paling adil dan paling kuat daripada yang lain. Ya Allah saksikanlah…
Bahkan negara yang jauh lebih baik dari negara ini, yaitu negara Turki Utsmani, sungguh para imam dakwah Najdiyyah telah banyak berkomentar tentangnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Aziz Ibnu shalih Al Jarbu’.
Ini Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah Ibnu Syaikh (Muhammad) yang wafat tahun 1233 H rahimahullah, tatkala Turki Utsmani menyerang negeri Tauhid -sebagian wilayah jazirah Arab- telah menulis risalah yang beliau beri judul Ad Dalaail, di dalamnya beliau jelaskan kemurtaddan orang-orang itu (Turki Utsmani) bahkan kemurtaddan orang yang membantu dan mendukung mereka dari kaum muslimin. Beliau namakan pasukan mereka itu sebagai Junuud Al Qubaab Wasy Syirki (Pasukan Kubah dan Syirik) [Lihat Ad Durar As Saniyyah: 1/397 Cet. II dan lihat pula jilid IX dan X dalam Ad Durar.]
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiqrahimahullah yang wafat tahun 1301 H menulis kitab dalam membongkar Turki Utsmaniy dan menjelaskan kesesatannya, beliau beri judul Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wal Atrak.
Kemudian Syaikh Al Jarbuu’ berkata: “Dan dalam syair Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah ada yang menunjukan pedasnya kecaman atas penyelisihan Turki Utsmani terhadap syariat Allah yang padahal orang-orang masa sekarang menyebutnya sebagai khilafah Islamiyyah…!!, Syaikh Sulaiman rahimahullah berkata:
Dan apa yang dikatakan terhadap orang-orang Turki dalam penyebaran kekafiran mereka…
Adalah benar, mereka itu tergolong orang-orang yang paling kafir dalam semua ajaran…
Permusuhan dan keburukan mereka terhadap kaum muslimin…
Melambung dan menggelembung dalam kesesatan atas semua agama…
Dan siapa yang loyal kepada orang-orang kafir maka seperti mereka…
Dan tidak ragu dalam pengkafirannya menurut orang yang berakal…
Dan orang yang terkadang sedikit loyal dan cenderung kepada mereka…
Maka tidak ragu dalam vonis fasiq baginya dan ia merasa takut…!
Dan sama persis apa yang dikatakan oleh muridnya Syaikh Husein Ibnu Ali rahimahullah:
Wahai Negara Turki semoga tak kembali kejayaan kalian…
Atas kami dan kalian tidak kembali di tanah air kami…
Kalian berkuasa, namun kalian menyalahi jalan Nabi kami…
Dan kalian halalkan kemungkaran-kemungkaran dan minuman keras…
Kalian jadikan syiar kaum musyrikin sebagai syiar kalian…
Namun terhadap kemusyrikan kalian lebih cepat dari mereka…
Kalian membekali diri kalian dengan ajaran agama orang-orang Nashrani…
Maka kebusukan di atas kebusukan besar yang kalian pikul…
Enyahlah kalian … binasalah kalian … kecewalah kalian…
Dan juga orang yang senang dengan kalian dan cenderung kepada kalian…!!!
Dan ungkapan seperti itu dilontarkan juga oleh Syaikh Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Salim, Syaikh Abdullah Ibnu ‘Abdillathif, Syaikh Abdirrahman Ibnu ‘Abdillathif Ibnu ‘Abdillah Alu Asy Syaikh. Banyak sekali, panjang sekali bila disebutkan, keadaannya terus berlangsung hingga masalahnya sampai kepada kita, kemudian kita merubah manhaj Salaf seraya kita mengaku benar di dalamnya, wallaahul musta’an.” [lihat kitab Al Warif Fi Masyu’iyyatit Tatsrib ‘Alal Mukhalif: 37-40]
Ini ungkapan para ulama tentang Negara Turki Ustmani, maka apa gerangan dengan Negara Indonesia ini…?
Apa pendapat kalian bila seseorang berkata: “Saya muslim dan saya tidak ingin menerapkan hukum-hukum Islam dalam hidup saya.” Apakah sah bila seseorang di antara kita mengatakan tentang orang ini: “Dia muslim karena , mengucapkan dua kalimat syahadat, masih shalat dan…. dan ?!!
Langganan:
Postingan (Atom)